PEMIMPIN INDONESIA

Posted on Updated on


Berawal ketika sebuah pertanyaan diajukan pada saya:

“Berbagai masalah yang melanda negeri ini masih terdapat kelemahan menurut kesigapan dan keseriusan pemerintah dalam mengatasinya. Menurut anda, apa criteria pemimpin yang baik & mampu mengatasi krisis kepanjangan ini?”

 

Hmm… saya jadi mulai berpikir, bagaimana kira-kira kriteria pemimpin ideal Indonesia? Sedikit flashback pada materi AlQiyadah wal Jundiyah saat DKT Gamais kemarin, ditambah dengan momen kebangkitan pemuda beberapa minggu yang lalu, dilengkapi dengan sedikit ilmu yang masih menempel di alam sadar, saya mencoba menjawab.

Memang benar, seorang pemimpin bukanlah segala-galanya. pemimpin tidak akan mampu berbuat banyak tanpa didukung oleh prajurit-prajurit yang hebat pula. Saya jadi teringat seorang pemimpin perang yang sungguh luar biasa hebat, Al-Fatih namanya. Kisahnya sungguh luar biasa. Seorang pemimpin perang terbaik yang diarmadai oleh kelompok prajurit terbaik pula, hingga akhirnya mampu menaklukkan konstatinopel. Subhanallah…

Sekali lagi pemimpin memang bukanlah segala-galanya. Namun peran pemimpin akan sangat menentukan. Peran pemimpin menjadi sangat penting hampir dalam setiap sendi kehidupan. maka memilih pemimpin yang tepat merupakan sebuah keharusan dan sangat perlu diprioritaskan.

Lalu bagaimana sosok pemimpin yang ideal jika direfleksikan dengan keadaan Indonesia saat ini?

Ah, terlalu banyak syarat dan -mungkin- terlalu naif jika kita mengharapkan sosok pemimpin yang ideal itu. Namun ada beberapa poin yang menurut saya sangat penting dimiliki seorang pemimpin Indonesia saat ini dan beberapa masa ke depan. Izinkan saya mengutarakannya.

1. IKHLAS

Ya, inilah karakter pertama dan utama bagi seorang pemimpin, pada level apapun, apalagi pada level kepala negara. Pemimpin yang ikhlas -menurut hadits- adalah pemimpin yang tidak meminta jabatan dan tidak pula berambisi (bernafsu) untuk mendapatkannya. Ambisinya adalah untuk berkontribusi dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya. Sekali lagi, bukan untuk menduduki tahta atau mendapatkan jabatan.

Mengutip kata-kata Anis Matta dalam sebuah taujih-nya, isinya kurang lebih: “Jabatan tidak sama dengan produktivitas. Jabatan tidak sama dengan karya, kontribusi, dan keahlian. Bahkan tidak jarang jabatan hanya menjatuhkan harga diri kita. Karena kapasitas kita tidak sesuai dengan jabatan yang disematkan pada kita”. 

Yap, bener banget kata-kata beliau. Bagi saya, pemimpin itu bukan sekedar jabatan. Kita mampu memimpin seseorang, walau kita secara formal bukan berjabatan pemimpin bagi mereka. Pemimpin adalah sebuah kepercayaan. semacam penisbatan. bukan formalitas. itulah pemimpin yang sebenarnya. 

Dan pemimpin seperti itu hanya akan muncul dari pribadi yang ikhlas. ikhlas berkontribusi. ikhlas mengabdi. Ia tidak lahir dan terangkat dari ketakutan rakyat akan posisi, jabatan, dan kekuasaannya. Pemimpin seperti ini diangkat dan terangkat karena kapasitasnya. karena kontribusinya. serta pengabdiannya.

 

2. CINTA

Cinta??? Apa maksudnya? Tenang, tenang, jangan dulu berprasangka. 

Maksud cinta di sini adalah, seorang pemimpin yang baik haruslah memiliki rasa CINTA yang mendalam kepada yang dipimpinnya. sesuai hadits Rasulullah saw pula, ‘pemimpin yang paling baik adalah pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. dan pemimpin yang paling buruk adalah pemimpin yang membenci dan dibenci rakyatnya’.

Kekuatan cinta ini yang akan membuatnya mampu berkorban. dengan kekuatan cinta yang tulus dan ikhlas ini pula ia akan mampu mengesampingkan segala ego dan gengsi pribadinya. Seperti kisah Umar ra yang dengan rendah hati dan tulus mengantarkan makanan pada malam hari kepada rakyatnya.

Kekuatan cinta pula yang mampu membuat seseorang dapat menembus dan memecahkan tembok-tembok keterbatasan dalam dirinya. menembus batas-batas kelemahannya. untuk terus mengabdi. untuk terus berkontribusi. Seperti kata Soekarno: “Aku bukan budak Moscow, bukan pula budak Amerika. Aku adalah budak, BAGI RAKYATKU SENDIRI!!!”. 

Kekuatan cinta inilah yang membuat Rasulullah saw menjadi yang terdepan dalam melindungi para sahabatnya yang tertekan saat perang Uhud. Subhanallah.. itulah buah dari kekuatan cinta. CINTA yang tulus dan IKHLAS.

 

3. Memiliki Kedekatan pada ALLAH

Kedekatan pada Allah adalah faktor yang sangat penting. Karena inilah yang akan mendatangkan pertolongan Allah. Ini yang akan menumbuhkan keberkahan pada diri dan rakyatnya. Kedekatan pada Allah ini juga yang akan senantiasa menjaganya dari kilau dunia. ini yang akan mengalirkan air matanya selalu karena takut akan amanah yang harus dipertanggungjawabkannya. Kesadaran akan tanggung jawab itulah yang membuat seorang Umar menyatakan, ‘jika saja ada seekor keledai yang tersesat di wilayah kekuasaanku, aku pasti akan diminta pertanggungjawabannya’. subhanallah…

Kedekatan seorang pemimpin pada Allah juga akan selalu membuatnya TOTAL dalam menjalankan amanahnya. Luar biasa kisah seorang Khalid bin Walid, yang dijuluki ‘pedang Allah’. Beliau sempat berkata (kurang lebih) : “Aku sangat bersyukur saat jabatan panglima perang ini dicabut dariku (ini terjadi saat khalifah Umar) karena pada saat aku menjadi panglima, aku bertanggungjawab pada pasukanku, dan aku bertugas untuk membawa kemenangan bagi Allah. namun saat aku menjadi prajurit biasa, maka aku bebas menentukan takdirku dan menyongsong syahid bagi diriku”. dan subhanallah, beliau selama mengikuti perang, tidak pernah menderita kekalahan.

 

4. VISIONER

Seorang pemimpin yang baik haruslah seorang yang visioner. punya mimpi. optimis akan masa depan dia dan yang dipimpinnya. Seperti nabi Yusuf yang dikisahkan di QS Yusuf ayat 4, dimana ia melihat bintang, bulan, dan matahari tunduk padanya. Visi itu sangat jelas. kuat. dan menggerakkan. hingga akhirnya terwujudkan dan diabadikan dalam QS Yusuf ayat 100.

Seperti juga kisah Rasulullah dalam perang khandaq. Pada saat itu kaum muslimin dalam kondisi yang sangat tertekan. mereka akan menghadapi perang melawan persekutuan kabilah2 di Arab saat itu, yang bersatu untuk menghancurkan islam. hingga kebijakan yang muncul adalah bertahan di Madinah dan menggali parit sebagai strategi pertahanan. nah, jadi logikanya, saat itu mereka kalo gagal bertahan akan menemui kehancuran. bener-bener hancur.

Saat itu, saat menggali parit, para sahabat menemukan sebuah batu yang sangat keras. Para sahabat tidak mampu memecahkan batu tersebut dan mereka meminta bantuan Rasulullah saw. pada saat itu Rasulullah memukul batu tersebut, dan bersama dengan pukulan itu, beliau berkata pada sahabat2nya (redaksinya saya lupa), bahwa beliau melihat kunci romawi, persia, dll..(afwan bener2 lupa redaksinya). intinya adalah Rasulullah menceritakan mimpinya bahwa suatu saat umat Islam akan mampu menaklukkan wilayah2 itu. itulah yang membakar semangat para sahabat. menumbuhkan harapan dan optimisme. menghilangkan keputus asaan. hingga akhirnya mampu bertahan melewati krisis perang khandaq itu.

Keadaan Indonesia saat ini tidak jauh berbeda. Krisis berkepanjangan ini benar-benar sudah membuat lelah rakyat. sikap pesimis yang tidak terelakkan. harapan yang sangat bias. maka bangsa ini membutuhkan -atau sangat membutuhkan- pemimpin yang visioner. hidup dengan harapan. dan menghidupkan rakyatnya dengan harapan itu.

 

5. TERAMPIL

Dalam suatu hadits diriwayatkan, saat kamu menyerahkan suatu pekerjaan ke yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Maka mutlak bagi seorang pemimpin untuk memiliki kemampuan memimpin. menguasai seni dalam memimpin, memotivasi, mengkoordinasi, dll.

Khususnya untuk di Indonesia, pemimpin harus punya kemampuan PEMERSATU. kita bisa liat realita bahwa Indonesia saat ini lagi kurang SATU. banyaknya suku, daerah, ras, dsb malah menjadi pemecah persatuan. menimbulkan pertengkaran. partai2 politik, pemimpin dan elite bangsa, semuanya uda ga satu. 

Padahal kalo kata Anis Matta, kita memang memiliki banyak perbedaan. cuma percayalah bahwa persamaan kita pun jauh lebih banyak. maka yang harus kita lakukan adalah bagaimana merekonsiliasi, memersatukan, dan mesinergikan semuanya. agar kita tidak dipisahkan oleh sekat-sekat tipis yang membuat kita saling kontra-produktif. karena masalah bangsa ini sangat besar. dan kita tidak boleh disibukkan dengan msalah2 kecil. apalagi itu muncul dari dalam elemen bangsa ini. agar tujuan kita bersama, untuk menjadikan Indonesia lebih baik, dapat tercapai.

 

Terakhir,,,

yang bangsa ini butuhkan sekarang bukanlah pemimpin yang hebat. bukan. tapi sebuah TIM yang HEBAT. karena bangsa ini tidak akan pernah maju dengan darah 1 orang. karena bangsa ini tidak akan pernah maju dengan aliran air mata 1 orang. karena bangsa ini tidak akan pernah maju dengan letupan ide 1 orang. tapi sebuah TIM.

maka tidak heran bahwa Soekarno pernah bilang: “berikan saya 10 pemuda maka saya akan mampu mengguncang dunia”. Tapi pemuda seperti apa? (ini yang jarang ikut dikutip). “…pemuda yang jiwanya dipenuhi dengan rasa cinta terhadap tanah airnya…”.

dan saya yakin, bangsa ini memiliki lebih dari 10 pemuda hebat. ITB punya banyak pemuda hebat yang peduli dengan bangsanya. itulah kenapa ITB disebut Institut Terbaik Bangsa. 

Maka kitalah pemimpin itu, kitalah penentu masa depan bangsa. dari sini, bumi ITB.

 

BANGKIT MAHASISWA!!! UNTUK INDONESIA!!!

One thought on “PEMIMPIN INDONESIA

    [...] http://adjiewicaksana.wordpress.com/2008/11/29/pemimpin-indonesia/ nureazizah13 @ 4:08 am [disimpan dalam Uncategorized Tinggalkan sebuah komentar » [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s