Sebuah Janji untuk Negeri: Mengambil Cinta dari Langit, dan Menebarkannya di Bumi

Sepekan terakhir, tepatnya 16-22 November 2014, saya mengikuti program Persiapan Keberangkatan (PK) ke 22 dari LPDP Indonesia. Tulisan ini adalah sebuah kesimpulan diri dari sekian banyak rangkaian kegiatan yang kami lalui bersama di PK-22 ini. Peserta PK-22 totalnya berjumlah 125 orang, dengan kondisi yang cukup beragam. Range usia kami bervariasi antara 20 sampai 40 tahun. Beberapa dari kami sudah berencana untuk melanjutkan ke studi doktoral. Bagi saya, ini adalah pelatihan pertama yang saya ikuti dengan diversifikasi peserta yang sangat beragam.

Di hari pertama, saya meyakini bahwa tujuan PK ini adalah sebuah tahap internalisasi nilai yang diharapkan dapat dimiliki oleh seluruh peserta PK. Nilai-nilai tersebut adalah integritas, profesional, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Saya terbiasa menyusun konsep pelatihan dan kaderisasi, sehingga saya sangat memahami bahwa nilai-nilai inilah yang akan menjadi acuan setiap kegiatan, dan menjadi penopang untuk sebuah fondasi kontribusi yang akan kita berikan sebagai duta negara.

Tulisan ini tidak akan bercerita mengenai materi apa saja yang ada di kegiatan PK, tulisan ini juga tidak akan menyampaikan ulang mengenai urutan acara yang ada selama PK berlangsung (mengenai penjelasan acara selama 7 hari, saya sudah share di livetweet melalui akun saya di @adjiewicaksana). Saya lebih akan memfokuskan diri kepada nilai apa saja yang saya dapat selama PK, dan kenapa saya berkomitmen untuk mengimplementasikannya, minimal untuk diri saya pribadi.

Pada hari-hari awal, kami diberikan penyadaran mengenai tanggung jawab kami kepada negeri ini, khususnya karena kami sudah diberikan fasilitas yang sangat banyak. Selain itu, kami juga menyadari bahwa negeri ini adalah negara besar yang memiliki sejarah kepahlawanan yang luar biasa. Semua materi dan metode yang diberikan, mengarahkan kami untuk berkomitmen untuk menjadi pemimpin bangsa masa depan, yang akan berkontribusi signifikan dalam mencapai tujuan kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Bagi saya pribadi, semua nilai tersebut akhirnya terangkum dalam sesi materi yang diberikan oleh Dik Doank. Saya meyakini, bahwa rasa cinta dan semangat kontribusi kepada negara, seharusnya merupakan hasil percikan dari rasa syukur dan cinta kita kepada Tuhan.

Berdasarkan hal itulah, kita tidak akan pernah rugi, tidak akan pernah menyesal, dan tidak akan pernah kehabisan energi untuk bergerak, sekalipun berbagai tantangan bahkan cemoohan akan menghampiri kita. Perjalanan ini saya yakini bukanlah perjalanan yang akan mudah dan mulus. Sudah seharusnya perjalanan ini adalah perjalanan yang sulit, terjal, mendaki, lagi berduri. Namun di atas semuanya, jika memang untuk itulah kita dilahirkan, maka itulah usaha terbaik yang seharusnya kita lakukan.

Siapapun yang berpikir untuk dirinya sendiri, akan selalu menjadi orang kerdil. Orang besar adalah mereka yang selalu berpikir dan memikirkan kontribusinya untuk orang lain. Bagi saya, PK memberikan nilai-nilai universal dan fundamental yang sangat baik dalam membekali kita menjadi pemimpin masa depan. Pemahaman bahwa energi hati kita akan sangat dibutuhkan dalam perjuangan, menjadikan saya yakin bahwa sangat penting membina hubungan kita dengan Tuhan sebagai dasar motivasi kontribusi kita. Meminjam kata-kata seorang penulis, yang akan kita lakukan adalah “Mengambil Cinta dari Langit, dan Menebarkannya di Bumi”.

Pada akhirnya, izinkanlah saya berdialog dengan Tuhan: Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk terus berkontribusi bagi bangsa ini, menjadikan kepentingan bangsa ini jauh di atas kepentingan kami pribadi. Istiqomahkanlah diri kami, hingga nafas ini kau tarik kembali.

PK 22

untuk Alfath #1: tentang Nama

Alfath comp

Teruntuk anakku tersayang,

Hari ini tepat 1 bulan kau lahir ke dunia. Percayalah sayang, setiap hari bertambah, semakin bertambah pula rasa cinta Ayah dan Bunda kepadamu. Sungguh sejak Bunda mengandungmu, rasa syukur dan harap kami bercampur dan terus bertumbuh setiap waktu. Sejak mula, Ayah dan Ibu selalu berharap yang terbaik untukmu.

“Sesungguhnya pada hari kiamat kamu sekalian akan dipanggil dengan namamu dan nama ayahmu. Buatlah nama-namamu yang baik” (HR. Imam Abu Daud)

Rasul kita mengatakan bahwa nama adalah doa. Kami pun menyiapkan nama terbaik untukmu, sebagai sebuah doa dan harap agar nama ini membawa banyak kebaikan untukmu.

Setelah beberapa pekan sebelum engkau lahir, kami berdiskusi cukup panjang tentang alternatif nama yang terbaik, hingga kami bersepakat memberikanmu nama:

Alfath Archadya Wicaksana

Alfath berarti kemenangan. Alfath adalah surat ke 48 dalam Al-Quran. Alfath juga terinspirasi dari panglima muslim penakluk Konstatinopel: Muhammad Al Fatih. Maka dari pemberian nama ini, Ayah dan Bunda berharap engkau dapat menjadi seorang pejuang Allah yang mampu membawa kemenangan bagi dirimu, masyarakatmu, dan agamamu. Alfath juga merupakan representasi nama islam dalam namamu, yang merupakan jalan hidupmu hingga kau meninggal.

Archadya berasal dari kata Arkadia, salah satu kota di Yunani Eropa. Kota ini terkenal indah, hijau, dan tenang. Kami memberikan keunikan dalam huruf ‘ch’ dalam nama tengahmu, untuk memberikan makna unik dan berbeda. Jangan pernah takut menjadi berbeda, dalam sudut pandang yang positif. Karena pahlawan setiap zamannya merupakan orang-orang yang berbeda dari kebanyakan orang. Archadya juga memberikan representasi nama internasional, yang kami harapkan terwujud dalam wawasan dan kapasitas bersaing internasional yang akan kau raih.

Wicaksana artinya bijaksana. Sebuah nama dengan nuansa lokal dan garis keturunan yang kental. Kami berharap nama Wicaksana dapat menjadikanmu seorang yang bijaksana, memiliki kesadaran kondisi ke-kini-an dan ke-disini-an, serta memahami garis sejarah diri pribadimu. Pemahaman yang kuat akan diri dan budayamu sendiri akan menjadi keunggulan dirimu dalam memberikan kebermanfaatan bagi lingkunganmu.

Anakku Alfath Archadya Wicaksana tersayang,

Ayah dan Bunda berharap dengan nama Alfath Archadya Wicaksana, engkau akan bertumbuh menjadi seorang muslim taqwa, pejuang Allah yang bijaksana, tenang pembawaannya, indah perilakunya, kuat akar pemahamannya, luas wawasannya, bersifat unggul, dan pada akhirnya, memberikan kemenangan bagi dirimu, keluargamu, dan agamamu.

Semoga Allah mengijabah doa Ayah dan Bunda. Semoga engkau bisa menjadi penyejuk hati dan pandangan kami, dan pada akhirnya menjadi amal jariyah kami untuk menuju surga-Nya.

Hanya kepada Allah kami menyembah dan memohon pertolongan.

Salam cinta penuh kehangatan,
Ayah dan Bunda

Rabu, 4 Juni 2014

menggapai mula

tidak mudah menjadi dia
pikirnya analitis, batinnya spekulatif
terkadang lelah dengan asumsinya sendiri
terlalu sering gamang dengan persangkaan pribadi

percabangan jalan terlalu beragam
alternatif yang dia buat terlampau diversif
ia lelah dengan pilihannya sendiri
ia menyerah atas pikirannya sendiri

tidak mudah menjadi dia
karena setiap pilihan terkadang menyakitkan
bagi dirinya atau yang di belakangnya

mungkin itulah kenapa pilihan menentukan masa depan
terkadang di titik ini, kita hanya perlu
menggapai mula
menjernihkan kembali semua asa

aku, kau, dan masa depan
hanya Tuhan yang tahu

diorama hujan

time_for_rain_by_sternenfern-d4ypgcm

akhir-akhir ini hujan turun sangat deras, atau mungkin terlalu deras
tidak ada yang salah dengan hujan, karena ia hanya menjadi akibat atas berbagai sebab
walaupun ia tahu, ia menjadi sebab atas berbagai akibat
terlalu kompleks untuk dipikirkan, karena terkadang sesuatu hanya perlu dipahami; dirasakan

seperti sebuah diorama,
ada saat-saat dimana kita harus menjalankan peran, menjadi bagian dalam potongan perjalanan

sejarah adalah masa lalu, tidak bisa kita ubah
sedang masa depan masih abu-abu,
tapi bukankah itu yang kita punya
untuk mengukir jejak manis di setiap langkah

aku, kau, dan masa depan
hanya Tuhan yang tahu

Change Your Lens, Change Your World

reflection_by_hacicavcav

 

ada saat-saat dimana kita merasa dunia ini terlalu kompleks dan membingungkan. ada saat-saat dimana kejadian-kejadian di sekeliling kita membuat kita bertanya-tanya kenapa. terkadang, bisa jadi kita hanya perlu mengubah cara kita memandang. mengganti lensa kacamata kita dalam melihat kehidupan, dan kemudian, kita akan melihat dunia yang berbeda.

.

Change Your Lens, Change Your World