TODAY’S DIALOGUE (1 April 2008)


Selasa kemarin tanggal 1 April 2008, saya nonton acara TODAY’S DIALOGUE di metro tv. Acaranya lumayan seru, dengan mengangkat tema “Partai-partai Islam semakin terpuruk”.

jadi di situ tuh dibahas tentang hasil survey LSI (Lembaga Survey Indonesia) mengenai “Trend Dukungan Nilai Islamis versus Nilai Sekular di Indonesia”. Kurang lebih begini cuplikannya:

Sekularisasi dalam nilai-nilai politik semakin mendapat tempat dan semakin mendalam pada Umat Islam Indonesia. Orientasi pada nilai-nilai Islamis dalam 3 tahun terakhir mengalami penurunan dukungan dalam masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan perempuan.

Grafik 1 : Nilai politik islamis vs nilai sekular

Mayoritas masyarakat muslim (57%) lebih berorientasi terhadap nilai-nilai politik sekuler dibanding dengan yang lebih berorientasi pada nilai-nilai politik Islamis lebih kecil (33%). Meskipun lebih kecil tapi jumlah ini cukup signifikan. Bila kekuatan ini terorganisasi dan aktif, ia akan menjadi kekuatan politik yang berarti.

(diambil dari: http://www.lsi.or.id/riset/310/trend-dukungan-nilai-islamis-versus-nilai-sekular)

Yang saya tangkep sih, masalah utamanya bukan turunnya dukungan masyarakat pada parpol islam, tapi masalah utamanya adalah terjadinya PERGESERAN PEMAHAMAN NILAI PADA MASYARAKAT.

Salut deh sama pak Tifatul Sembiring, pas dipaksa-paksa jawab mengenai tanggapannya mengenai isu wanita jadi presiden, beliau dapat menjawab dengan sangat baik.
Kurang lebih jawabannya:Indonesia adalah negara demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang biasa, sudah ada bukti bahwa Megawati pernah jadi presiden. Jadi, pada dasarnya semua dikembalikan kepada suara rakyat, yang pasti, jangan sampai isu seperti ini justru membuyarkan pandangan kita terhadap penilaian kompetensi dan kualitas dari individu tersebut……….(beuh,,,keren gak tuh…=9)
Selain hal di atas, ada sesuatu yang menarik juga. Pada acara itu disampaikan bahwa keadaan masyarakat Indonesia (suara) saat ini dapat dibilang berbentuk seperti kurva menyerupai gunung, jadi landai di kanan-kiri dan berpuncak di bagian tengah. Maksudnya, masyarakat Indonesia saat ini cenderung moderat dan sekuler. Lalu di situ pak Syaiful (dari LSI) menyampaikan bahwa sebuah parpol tidak akan mampu meraih tangkup kekuasaan, jika parpol tersebut tidak dapat ‘bergeser ke tengah’.

Hmm…setelah saya pikir-pikir, memang untuk mendapatkan suara yang besar, suatu parpol harus berada pada ruang lingkup kurva puncak. Pertanyaannya?apakah cara yang harus dilakukan adalah dengan bersikap lebih ‘terbuka’, ‘lebih sekuler’ atau ‘bergeser ke tengah'(kata-katanya pak Syaiful)??menurut saya, jawabannya adalah TIDAK!!!
Suatu pondasi, landasan, atau ideologi tidaklah dapat diubah. Jika itu dilakukan, berarti hilanglah konsistensi dari lembaga tersebut. Nah, berarti jalan keluarnya adalah dengan menggeser kurva tersebut sehingga kurva puncak berada dalam ruang lingkup lembaga bersangkutan. Dengan itu, maka tangkup suara dan kekuasaan akan mampu diraih tanpa harus menggeser diri.
Inilah yang saya pahami dengan pencerdasan masyarakat dan perubahan paradigma. Hal ini dapat terjadi pada banyak hal. Pencerdasan masyarakat dan perubahan paradigma merupakan bagian dari reformasi. Dan mengutip pernyataan pak Tifatul, dakwah adalah reformasi.
Jadi, dalam proses reformasi, suatu lembaga memang perlu melakukan beberapa kelenturan dan toleransi, namun harus tetap dalam batas-batas yang sesuai. Selebihnya, adalah suatu keharusan untuk menyesuaikan pola pikir masyarakat agar sesuai dengan idealisme lembaga.

hmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s