Analogi Komunitas


Kawan…

Kita selalu berada dalam komunitas. Selalu hidup dalam kelompok-kelompok, baik kecil maupun besar. Waktu SMA, mungkin banyak yang ikut organisasi, OSIS, MPK, PMR, Pramuka, KIR, DKM, dll. Semua itu adalah komunitas tempat kita berada. Kalo waktu kuliah sekarang, mungkin KM, Gamais, Unit, Himpunan, dll.

Lalu pernahkah kita merasa jenuh dalam komunitas itu??kalo saya sih pernah, dan saya yakin semua orang pernah mengalaminya, walaupun dengan kadar yang berbeda-beda. Waktu di SMA, saya aktif di Pramuka, MPK, sama DKM. Hampir di setiap organisasi itu saya pernah mengalami kejenuhan. Sebabnya??bisa macam-macam. Kadang kita bosan dengan kondisi yang ada, kadang kita terlalu lelah untuk terus beraktivitas di sana, namun yang seringkali menjadi penyebab utama adalah kekecewaan terhadap kondisi yang ada.

Kadang kita kecewa sama suatu lembaga, saat lembaga itu tidak mampu berkembang sesuai ekspektasi kita. Kadang kita kecewa saat lembaga itu tidak bisa memberikan apa yang kita inginkan. Kadang juga kita kecewa karena kita merasa ‘sendiri’ dalam mengembangkan lembaga itu. (Lembaga yang saya maksud secara umum dapat dianggap sebagai komunitas).

PARAHNYA…
Kita seringkali gak sadar kalo kita adalah bagian YANG BERTANGGUNGJAWAB atas segala penyebab kejenuhan yang kita rasakan itu. Seringkali kita hanya menyalahkan, “ah, anak-anaknya pada gak jelas, pada males kerja, proker kaga ada yang jalan, dsb”, padahal, KITA juga bertanggungjawab pada hal itu. Setuju??

Jika kita analogikan komunitas itu dengan suatu kapal yang sedang berlayar menuju suatu tujuan. Kapal itu berisi banyak orang, dan yang perlu diingat, setiap orang yang tergabung memiliki kekhasan sendiri, memiliki karakter yang unik, terlebih lagi, setiap awak kapal memiliki keterampilan dan kapasitas yang berbeda pula. Selain itu, mereka memiliki keinginan sendiri, namun sayangnya, kita tidak bisa menjamin setiap awak kapal memiliki tujuan yang sama dan kenginan untuk berkorban bagi tujuan dengan kadar yang sama. Hanya setiap individu yang mengetahui tujuan dirinya berada dalam kapal tersebut.

Keadaan di atas merupakan analogi sebuah komunitas…

Lalu apa yang seringkali kita rasakan??
Kita kecewa karena kapal melaju dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Kita kecewa karena dengan banyaknya orang yang ada di dalamnya, justru membuat kondisi menjadi tidak kondusif dan tidak efektif. Yang mengubah haluan, lagi-lagi dia. Yang menjadi awak di menara, lagi-lagi dia. Yang mengembangkan sayap, lagi-lagi dia, dsb. Parahnya lagi, semua awak harus difasilitasi kebutuhannya, yang lagi2 dia yang melakukannya. Semua tugas itu membuatnya jenuh dan merasa kecewa dengan keadaan yang ada.

Selanjutnya…apa yang akan kita lakukan bila keadaan kapal tersebut sudah sangat bobrok, layarnya banyak yang berlubang, kayunya sudah keropos, bahkan kabinnya bau???
Apakah kita akan melompat ke laut dan mencoba berenang sampai tujuan??mungkin itu akan membuat kita senang, bebas dari bau, merasakan segarnya laut dan bermain dengan lumba-lumba…
Namun seberapa kuat kekuatan kita untuk terus berenang sampai tujuan??darimana kita akan mendapatkan makanan dan minuman, saat malam datang, bagaimana kita mampu menghalau hawa dingin yang mencekam??

INGATLAH…
Jika memang KITA YAKIN bahwa kendaraan ini adalah kendaraan yang benar dan tepat untuk menggapai tujuan kita, maka bukanlah suatu pilihan bagi kita untuk MENINGGALKANNYA.
Sebab percayalah, jika memang bukan kita yang memperbaiki kapal ini, pasti nanti AKAN ADA yang memperbaiki kapal ini. Kapal ini akan terus berlayar menggapai tujuan DENGAN ATAU TANPA ADANYA KITA.

Kita bukanlah seseorang yang hanya mampu mengomentari. Kita bukanlah seseorang yang hanya mampu mengekspos dan bahkan memperuncing masalah.
Karena kita adalah orang-orang yang membawa PERBAIKAN.

Maka bekerjalah dengan IKHLAS. Berilah nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Berikanlah kasih sayang kepada saudara-saudaramu. Dan bangunlah komunitasmu. Bangunlah ‘kapal’-mu menuju tujuan yang terbaik. Insya Allah.

“For Better Tomorrow, For Better Civilization”

2 thoughts on “Analogi Komunitas

  1. ga ada yg comment?? sabar ye, ji.

    Kalo naf mau lompat ke kapal lain gimana? oke kan? Kapalnya lebih gede dan bisa menyenangkan kalo naik kapal itu.

    tapi emang ga mungkin ngajak semuanya pindah ke kapal yg lain. Makanya, sabar2 aje ye sama penghianat kayak gw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s