PPAB a.k.a OSJUR a.k.a KADERISASI


(celotehan di bawah ini banyak didasarkan pada pengalaman diri waktu menjabat sebagai ketua kaderisasi salah satu organisasi di SMA)

notes:

“TEACHING is THE WORK of HEART”
(Mengajar adalah Pekerjan Hati)

Karenanya, ketulusan pengorbanan, dan keteladanan hendaknya dimiliki oleh setiap panitia. Mampu merasakan apa yang dirasakan oleh peserta, dan mau menerima kritikan secara terbuka adalah hal-hal yang harus mampu dilakukan.
Harus diingat, kegiatan pelatihan ini bukan hanya kegiatan RUTINITAS semata. Lebih dari itu, ini adalah LADANG AMAL dan sarana pengembangan diri, dan tentu saja : upaya mempertahankan eksistensi organisasi.

Yap, PPAB yang lebih dikenal dengan nama osjur (orientasi jurusan) pada dasarnya merupakan sarana kaderisasi bagi mahasiswa program studi tertentu. Biasanya ‘jebolan’-nya akan mendapatkan predikat sebagai anggota himpunan. Sebenarnya, hampir setiap organisasi maupun lembaga selalu mengadakan proses kaderisasi, hanya caranya saja yang mungkin berbeda antara satu dan lainnya.

Sejak sekolah, bagi kita yang aktif berorganisasi, baik OSIS, MPK, pramuka, PMR, bahkan rohis dan ekstrakulikuler lainnya pasti juga pernah mengalami proses kaderisasi. Pola kaderisasi masing-masing berbeda disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, dan kemampuan organisasi bersangkutan. Pasti kita semua pernah dong ngalamin yang namanya MOS (Masa Orientasi Sekolah). Umumnya, MOS merupakan masa dimana siswa dan siswi baru diperkenalkan kepada sekolah beserta kondisinya. Namun, tidak jarang pula kegiatan ini diisi dengan ‘simulasi-simulasi’ yang bertujuan untuk membiasakan peserta dan bahkan mencoba membentuk karakter peserta.

Kalau di OSIS, biasanya proses kaderisasi ini dinamakan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan). Kalo di MPK sekolah saya, BDM (Bimbingan Dasar Manajemen), kalo di pramuka namanya DDP atau dikdaspim yaitu Pendidikan Dasar Kepemimpinan. Sekali lagi, setiap organisasi dan atau lembaga pasti memiliki caranya masing-masing untuk melakukan proses kaderisasi.

Lalu apakah KADERISASI itu sendiri???
Mengapa KADERISASI menjadi sangat penting bagi setiap lembaga dan organisasi???
Bagaimana melaksanakan KADERISASI dengan efektif???
Apa parameter keberhasilan KADERISASI???

Pertanyaan-pertanyaan di atas selayaknya mampu dijawab secara lugas oleh siapapun yang hendak mengadakan proses kaderisasi ini. Mengapa??Karena dengan terus menerusnya proses kaderisasi dilakukan, akan sangat rawan terjadinya sebuah stigma bahwa kaderisasi merupakan TRADISI. Panitia dalam hal ini seringkali hanya ‘mencontek’ kegiatan terdahulu tanpa mau meninjau ulang tingkat keefektifannya jika hal yang sama dilakukan pada waktu yang berbeda.

Itulah masalah yang seringkali menjadi penyebab proses kaderisasi berjalan tidak efektif, bahkan terkesan tanpa makna. Keberjalanannya hanya menjadi RUTINITAS semata. Lebih parah lagi kalo ajang seperti ini menjadi ajang REVENGE bagi mantan peserta kepada peserta berikutnya.

Maka ada baiknya jika kita tinjau ulang bagaimana sebuah proses kaderisasi itu berjalan dan bagaimana asal-usul serta definisinya.

Apa itu kaderisasi?
Kaderisasi merupakan suatu proses penurunan dan pemberian nilai-nilai, baik nilai-nilai secara umum maupun khusus bagi institusi bersangkutan. Maka tidak heran jika proses kaderisasi ini seringkali mengandung materi-materi kepemimpinan, manajemen, dan lain sebagainya, karena tidak dapat dipungkiri lagi, kader yang masuk ke dalam institusi tersebut nantinya akan menjadi penerus tongkat estafet kepemimpinan, terlebih lagi pada institusi dan organisasi yang dinamis (misalnya organisasi tingkat sekolah atau kuliah, yang pergantian kepemimpinan dilakukan setiap tahun)

Nilai-nilai yang diakui di organisasi bersangkutan pun pastinya akan diberikan kepada peserta. Sewaktu saya SMA, di organisasi pramuka, pada saat baru masuk dan mengalami proses kaderisasi, saya dan teman-teman saya yang lainnya diberikan materi banyak hal mengenai latar belakang, sejarah, pola, sistem, hymne, dan banyak hal lainnya mengenai organisasi itu, yang tidak akan pernah diadapat oleh orang lain selain calon anggota.

Kaderisasi menjadi sangat penting karena akan menentukan keberjalanan atau konsistensi organisasi bersangkutan.

Bagaimana melaksanakan KADERISASI yang efektif??

Seperti telah disebutkan di atas, kaderisasi berfungsi sebagai proses transfer ilmu dan nilai-nilai. Maka ada baiknya jika sekarang kita menganalogikan kaderisasi dengan sebuah PELATIHAN alias TRAINING.

Kaderisasi biasanya dilaksanakan dengan sangat intesif. Waktu SMA dulu, setiap hari kumpul pagi, lalu kumpul siang, lalu kumpul sore dengan sangat rutin yang berjalan tidak kurang dari 1 bulan. Setiap kumpul dapet materi, hampir setiap hari dapet tugas. Pada kondisi seperti itu, sadar maupun tidak sadar, seringkali kita mampu menjadi seseorang yang ‘lebih’ dari biasanya.

Maka tidak salah lagi jika kita menyebut proses kaderisasi sebagai pelatihan dan training. Lalu apakah pelatihan itu??senada dengan maksud dan tujuan dari kaderisasi, pelatihan merupakan sebuah penyelenggaraan kegiatan yang berdampak pada peningkatan kinerja, produktifitas, semangat dan performance seseorang dan atau organisasi.
See?? dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan merupakan bagian dari proses kaderisasi.

Selanjutnya, bagaimana caranya untuk mengadakan pelatihan yang efektif???
1. Pahami kenapa kegiatan ini harus diadakan
Biasanya, suatu pelatihan akan diadakan karena:
a. Ada pergantian kepengurusan
b. Perubahan teknologi/ lingkungan
c. Perubahan sistem kerja atau peraturan
d. Keinginan anggota organisasi untuk meningkatkan potensi
e. Kebutuhan untuk berkembang agar tetap eksis

Maka sebelum kita mengadakan sebuah pelatihan, tanyalah kepada diri kita sendiri dan teman-teman kita sesama panitia pelaksana, “mengapa kita melakukan ini??”
Sangat penting untuk menghindari alasan-alasan yang tidak berdasar dan ‘berbau’ tradisi.

2. Membuat poin-poin tujuan akhir yang ingin dicapai
INGAT!!!
a. Hendaknya anda menentukan target anda dengan pasti dan serius! Ingatlah, jika anda tiidak mengetahui kemana anda hendak pergi, maka jalan manapun tidak akan mampu mengantar anda ke manapun
b. Ingatlah bahwa sesuatu yang tidak mungkin bisa dianalogikan, maka tidak mungkin juga bisa dikelola! Oleh karena itu, target-target anda hendaknya jelas dan spesifik
c. Target yang baik bersifat realistis (mampu direalisasikan) dan hendaknya mampu disertakan jangka waktu pencapaiannya.
d. Hendaknya target mudah dipahami oleh semua pihak, baik panitia maupun peserta, agar semua bisa berjalan beriringan menuju arah yang sama
e. Hendaknya target yang telah ditetapkan juga diketahui, disepakati, dan dipahami oleh peserta
f. Hendaknya target disusun secara tertulis dan ada waktu evaluasi rutin untuk melihat indikator kesuksesan pencapaian target
g. Yang terpenting, hendaknya target yang ditetapkan selalu berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah (apalagi pedoman yang lebih baik dari ini??)

3. Tentukan metode terbaik untuk mencapai tujuan tersebut
Berbagai macam metode pelatihan:
a. Konseling personal (wawancara)
b. Materi terpusat
c. Game aplikasi
d. Studi kasus (demonstrasi)
e. Simulasi teori-teori manajemen (bidding, polling,open tender, dll)

Metode juga termasuk mengenai pola-pola pemberian hukuman…oya, kalo bisa sempetin baca-baca buku tentang metode pembelajaran revolusioner, kaya quantum teaching, revolusi belajar, dll, siapa tahu bisa jadi refensi atau inspirasi,,,

Hal ini penting karena metode yang dilakukan setiap tahun tentunya tidak akan sama terus. Harus dibuat sesuai dengan pertimbangan berbagai macam hal (karakter peserta, kebutuhan peserta, kondisi lingkungan, dll). Jika tidak terpenuhi, tentu saja, pelatihan ini akan gagal (kurang maksimal). contoh kasus, metode pelatihan di militer akan berbeda dengan metode pelatihan di kantor-kantor.

4. Buat agenda dan skenario yang lebih rinci dan terencana

Khusus untuk skenario simulasi, ada baiknya benar-benar direncanakan terlebih dahulu, jangan asal-asalan.
Pada dasarnya hampir tidak bisa dipungkiri bahwa simulasi pada awalnya memang sudah dibuat ‘skenario’nya terlebih dahulu, namun seringkali pada saat pelaksanaannya panitia terbawa emosi sehingga melewati batasan.
Maka sebaiknya terdapat aturan-aturan spesifik yang dipahami dan mampu dijalankan oleh panitia (co : dilarang mengeluarkan kata-kata kotor dan merendahkan, dilarang main fisik, dll.)

5. Lakukan pelatihan dengan terus konsisten terhadap tujuan dan metode yang telah ditentukan
Jika kegiatan ini dibagi berdasarkan pra, pas, dan pasca, poin-poin dari 1-4 bisa dimasukkan ke dalam PRA-acara.
Sedangkan poin ini sudah masuk ke dalam PAS acara. Perencanaan memang sangat penting, karena gagal merencanakan=merencanakan kegagalan. Namun, pelaksanaan juga tidak kalah pentingnya. Buat apa kita menyusun berbagai rencana yang pada akhirnya tidak pernah kita lakukan??

Harus diingat, kegiatan ini sangat lama dan menguras tenaga. Kejenuhan adalah hal yang mungkin timbul, baik bagi peserta maupun panitia.
Maka, kekuatan KONSISTENSI dalam menjalankan kegiatan ini sangat dipentingkan.
Selain itu, keterampilan untuk memvariasikan kegiatan sehingga tidak menjenuhkan juga sangat diperlukan. Salah satu cara terbaik adalah memandang segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang, baik dari panitia maupun peserta.

6. Evaluasi pelatihan secara berkala dan objektif (terutama untuk pelatihan yang berlangsung lama)
Setelah menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta penetapan waktu pencapaiannya, pada waktu tersebut, jangan sampai tidak melakukan evaluasi.
Karena evaluasi dapat membantu panitia dan peserta untuk kembali kepada esensi/ tujuan kegiatan ini dan mampu membangkitkan lagi motivasi keduanya.

Contohnya, setiap pergantian fase selalu diadakan evaluasi mengenai tujuan yang ingin dicapai, apakah tercapai atau tidak.
Ingat, selain melakukan evaluasi dari panitia, ajak peserta untuk mengevaluasi/ menilai diri mereka sendiri, terhadap tujuan-tujuan itu. Hal ini penting agar mereka dapat jujur dan termotivasi untuk mencapainya.

Ada 3 hal yang harus dilihat dalam sistem evaluasi/ penilaian, terutama untuk peserta:

HEAD (pikiran/kognitif), maksudnya teori-teori materi yang selama jangka waktu tersebut telah diajarkan (co: materi ambalan, materi adat, birokrasi, administrasi, dll). Cara penialaiannya dapat berupa tes tertulis, simulasi (pembuatan proposal), demonstrasi (mempresentasikan suatu materi, dll)
HAND (keterampilan/ psikomotor), maksudnya adalah evaluasi-evaluasi materi yang lebih kepada aplikasi, bukan hanya teori. Untuk hal ini, panitia harus mampu memberikan perhatian yang lebih banyak agar penilaian berjalan objektif. (co: kedisiplinan, kemampuan memimpin, bekerjasama, dll)
HEART (hati/ afektif), setiap peserta ada kalanya mengalami kekesalan atau kejenuhan. Selain untuk ajang evaluasi, ada baiknya pergantian fase juga menjadi penyegaran kembali (refresh) bagi para peserta khususnya, agar akhir dari pelatihan ini dapat KLIMAKS.

yap, semoga sedikit catatan ini mampu membuat proses kaderisasi dimanapun menjadi lebih baik…

“for better tomorrow, for better civilization”

4 thoughts on “PPAB a.k.a OSJUR a.k.a KADERISASI

  1. Wah,,salut ama pemikirannya..

    Mgkn pernyataan yg pernah saya denger (tentang karakteristik angkatan) itu bener,,angkatan genap=kompak,,angkatan ganjil=pinter.. Dunno jg sih saya..

    Btw,,gmn kesan 2007 ttg PPAB MTI..?
    Tetep semangat yak..

    Oia, mo nambahin juga..
    Pembelajaran yang paling baik adalah keteladanan yang dapat memberikan inspirasi bagi si pembelajar..Saya setuju ama statement ini..

    Tapi ngga jarang, gara gara kondisi ideal di atas gak terpenuhi, pembelajar berhenti belajar..
    mau pilih putih, tapi gak feasible, malah jadi pilih yg hitam..Padahal, masih ada warna lain..
    (waduh bahasanya jadi sulit gini yak..?)

    Padahal, salah satu tujuan dari kaderisasi adalah untuk regenerasi..
    Kasarnya, orang2 lama diganti ama orang2 baru yg jauh lebih baik..
    Supaya organisasi bisa terus melangkah ke keadaan yg lebih baik..

    Duh,,kepanjangan yah..??
    Hahahaha..

    CMIIW..

    Wass..=D

  2. Wah, ada blogger TI lagi nih…salam kenal ya kak Ilma…

    bener banget sih, semuanya harus seimbang…tapi menurut saya tentang memilih hitam dan putih itu terlalu ekstreme deh…
    kalo emang bisa menjadi sosok yang diteladani, semua pasti mencoba mengarah ke sana, sesuai dengan kapasitasnya…

    misalnya aja, setiap kita orang muslim pasti punya satu suri teladan…saya sendiri masih bisa dibilang sangat2 jauh dari beliau, tapi gak kepikir oleh saya untuk menentang apa yang ada di diri beliau dan menempuh ‘jalan yang sebaliknya’…hehe…pasti kakak ngerti kan maksud saya…

    soalnya ajang evaluasi abis PPAB kemaren sangat perlu jadi catatan dan pembelajaran bagi kami dan juga panitia…kita sama2 belajar untuk membawa MTI menjadi lebih baik…insya Allah…^^

  3. Fu fu fu.. Not bad..
    Oke, ditunggu ya di MTI dengan pemikirannya tentang PPAB yang lebih baik..

    Never ending improvement..

    [nb : untuk PPAB 2009 (yang diurus TI’07, itupun kalo semua diterima, hoho) kalau bisa, keprofesiannya ditambah ya, sekarang terasa kurang banget kan?]

    ~
    Febiyan D.S. 13406028

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s