SUARA HATI


Saya dapet postingan bagus banget nih dari milis alumni muslim SMA dulu…
Kayanya pas banget sama suara hati (seenggaknya buat saya). Huh, jadi makin kangen sama masa SMA…T_T

Buat sahabat2ku:
– (para) Aktivis
– Gamais [karena kita keluarga]
– Forum Muslim
– MITI [menuju TI lebih baik]
– TI 2007
– MTI (loh??kan belom masuk???)
– Kelompok Liqo/ mentoring (kapan nih kita jalan2 keliling Bandung???pusing gw sama kehidupan kampus..)
– Ganesha Muda

Semoga postingan ini membawa makna yang lebih bagi kita untuk memberikan “SENTUHAN RASA” di tempat kita beraktivitas…^^

Lika-Liku Cinta
Cinta telah mendominasi goresan sejarah umat manusia. Berbagai kejadian—peperangan, pembunuhan, kemenangan, kekelahan, dan masih banyak lagi—dilatorbelakang i cinta. Ada yang dipicu cinta harta, cinta kekuasaan, dan tak lupa… cinta wanita. Suhuf sejarah para nabi pun menyediakan halaman yang cukup besar akan kisah cinta. Masih ingat Nabi Yusuf? Cinta wanita kepada kerupawanan raganya (Nabi Yusuf) sanggup membuat mereka lupa diri dan mengiris-iris tangannya sendiri. Masihkah kita ingat cinta istri nabi yang sempat lupa diri dan tega meninggalkan sang suami, ketika belahan jiwanya (Nabi Soleh) didera kemalangan yang silih berganti? Tak lupa kita menerawang kisah nabi kita, Muhammad, beristrikan pasangan dengan ketsiqohan yang menghujam sehingga ia (Khadijah) lekas percaya ceracau suaminya yang terlalu aneh diterima akal sehat. Cinta dengan beragam kisahnya tak lupa menghinggapi kader-kader dakwah yang pernah dan masih digembleng di alamamater tercinta, SMAN 1 Bogor. Tujuh tahun bergelut dalam organisasi keislaman membuat saya sadar akan satu fakta: aktivis dakwah juga manusia. Mereka butuh untuk mengekspresikan rasa cintanya dan juga merasakan dicinta. Sayangnya,
medan dakwah biasanya hanya mampu mendorong mereka menjalankannya fitrah pertama, mencintai. Ada banyak keharusan untuk mencinta; mencintai dakwah, mencintai mad’u, mencintai ustadz, dan keharusan mencintai aspek turunan dakwah. Berkebalikan dengan kewajiban tersebut, kebutuhan dicintai kerapkali sulit diraup di jalan ini. Kesibukan personel dakwah yang meningkat, mobilitas amanah yang tinggi, dan lokasi terpencar berjauhan akan mendorong tiap orang untuk memprioritaskan kegiatan. Mendahulukan yang utama dan mengutamakan yang terdahulu, demikian moto yang kita genggam bersama. Usaha berpatokan pada daftar prioritas akan membuat kita abai terhadap hal
yang berada di daftar terendah, apalgi yang berada diluar daftar. Saling memberi hadiah ketika hari kelahiran, kunjung-mengunjungi , bahkan sekedar komunikasi singkat seperti, “Hai! Gimana kabarnya?”
menjadi hal yang berada dalam urutan bawah, bahkan nihil keberadaannya. “Melayani dan jangan cengeng!”, demikian filosofi yang umumnya kita jalani dari hari ke hari. Ungkapan jujur keinginan akan dicintai, kerap membuat seorang ikhwah dijuluki cengeng, melankolis, maupun terlalu mengawang-awang. Sayang, hati tidak dapat dibohongi dan punya tabiat tersendiri. Hati bukanlah batu yang bisa bolak-balik dilempar, didiamkan, lalu dibuat berjungkar balik untuk kemudian bisa istikomah
dalam diam. Kerinduan pada para dai’ akan merasakan untuk dicintai akan selalu ada. Kebutuhan tersebut kadang menghentak-hentak, bergelagak, dan sampai ekstase puncak… berusaha mencari pemenuhan akan dahaga untuk disirami cinta.


Pemenuhan Kebutuhan akan Cinta

Saat kebutuhan dicintai begitu kuat, ada banyak cara penyikapan berbeda dari rekan-rekan ikhwah. Ada yang cuek karena ia memang dasarnya cuek. Rekan yang lain berupaya menahan gejolak ini untuk
kemudian larut dalam tilawah dan sujud panjang penuh tangis. Golongan ke-2 ini berusaha menguatkan diri lewat semboyan, “semua orang di bumi boleh cuek bebek atau memusuhi, asalkan cinta Allah selalu dalam dekapan.” Romantis bukan? ^_^b
Golongan lain berusaha mencari komunitas lain untuk memenuhi dahaganya. Komunitas motor, organisasi kampus, komunitas hobi (seperti penulis atau filateli), dan harokah berbeda menjadi pelarian mereka. Kebanyakan lebih nyaman dalam komunitas yang tidak punya afiliasi dengan nilai-nilai dakwah. Seperti lazimnya pelarian, mereka memuaskan dahaga akan cinta di komunitas lain ini dan menjadikannya sebagai bekal bertarung di jalan dakwah kering kerontang akan cinta. Ekspresi yang lebih parah adalah lewat pelarian mencari cinta menjadikan cintanya berlabuh di daerah terlarang. Mencari kekasih lain (baca: pacar) adalah salah satu contohnya. Perumpaan orang yang kabur maupun
sejenak lari adalah seperti mereka yang menggantungkan diri kepada air terjun dan oase. Ada yang menjadikan pelariannya sebagai oase, dimana mereka mereguk dahaga “cinta” sesuai kebutuhan untuk memulihkan (bagian) diri mereka sehingga bisa aktif di jalan dakwah yang dilanda kemarau akan cinta. Ada juga yang menjadikan tempat pelarian sebagai mata air utama, dimana mereka menggantungkan diri sepenuhnya kepadanya untuk memenuhi hajat mereka akan cinta. Mereka enggan kembali ke
tempat lama (baca: ladang dakwah) yang kering kerontang akan cinta.

Inilah mungkin latar belakang orang yang jarang hadir dalam acara bernuansa dakwah; mentoring yang dibinanya, halaqoh yang diikuti, dauroh, muker, raker, syuro rutin, mabit, jalasah ruhiyah, dll. Pengalaman Pribadi akan Cinta Beruntung, saya memasuki dakwah teriring siraman kasih yang tercurah
deras dari kiri-kanan, depan-belakang, dan atas-bawah daripada dunia dakwah. Awal mula interaksi dengan dunia dakwah adalah saat saya kelas 1 SMA. Personel dunia dakwah disekeliling saya telah menampakan dirinya sebagai sosok humanis yang menyampaikan ajaran Islam sebagai ajaran penuh kasih sayang. Tidak ada tanggapan kejam atas kelakuan saya yang kurang Islami. Ambil contoh, ketika saya makan sambil berjalan. Hanya ada teguran halus yang disampaikan dengan lemah-lembut, “Makannya jangan sambil berdiri qi!” Beliau kemudian dengan halus menjelaskan alasan dibalik larangan beliau. Ardi Rahman Ahani (Kedokteran Unpad, masuk angkatan 2004) adalah nama orang
tersebut (Allahu yarham). Kemudian, ada juga yang bolak-balik mengingatkan saya akan tidak baiknya tertawa berlebihan. “Ketawa berlebihan membuat kita lupa akan Allah,” demikian ujarnya. Sosok
manusia itu adalah Wiwik (FKH IPB angkatan 40/2003), sosok akhwat pertama yang saya temui yang duduk didepan bangku saya di kelas 1. Curahan cinta semakin deras semasa saya mulai menjadi alumni. Saya punya MR yang kasih sayangnya bisa tergambar dari jarak yang ia tempuh demi mengisi halaqoh saya, yakni ratusan kilometer. Bayangkan, kira-kira lebih dari 300 km setiap minggunya, empar kali sebulan, 12 bulan dalam satu tahun! (Saya bersama beliau kurang dari setahun, namun saya tahu beliau berlanjut melakoni kegiatan bolak-balik ini minimal setahun setelah saya tidak dibina beliau). Saya juga punya kakak kelas yang saya anggap sebagai kakak sendiri, salah satunya adalah Rama Adeyasa. Dia adalah orang terunik yang saya temui. Usianya boleh cukup jauh jaraknya, namun saya merasa seperti rekan sebaya dan leluasa mengkespresikan susah, senang, benci, maupun sebal kepada
beliau. Saya sebelumnya juga pernah ada diorganisasi dimana senioritas tidak berlaku (saya hanya langsung memanggil nama kepada kakak kelas).

Namun, ada nuansa yang berbeda di organisasi dakwah ini. Saya mengucapkan sebutan Aa dan Teteh dengan kesadaran penuh, bahwa mereka berhak atas penghormatan serupa. Ikatan cinta itu diperkuat oleh berbagai acara yang organisasi ini (Forkom) adakan; lomba masak nasi goreng, Integrated Training pertama (Meunasah Aceh), dauroh, training motivasi, Training for Mentor, lomba masak ayam, mabit, dll. Tausiyah pun tak lepas dipompakan oleh senior saya ketika saya mempunyai masalah tertentu.

Penanggulangan Cinta
Adakah kemudian adik-adik kelas saya merasakan hal serupa seperti yang saya rasakan? Wallahu ‘alam, hanya Allah yang paling tahu. Apakah saya sudah mencurahkan perhatian serupa dengan kakak kelas kepada saya dulu? Saya rasa masih jauh. Saya merasa keimanan saya yang pas-pasan (bahkan kurang) membuat kemampuan ekspresi kasih sayang saya (dalam konteks dakwah) jauh dibawah pendahulu saya. Adakah anda merasakan hal itu? Bila iya, saya minta maaf. Akan tetapi, tulus saya katakan, ” Ana uhibbukum fillah.” Saya mencintai kalian karena Allah! Izinkan saya untuk berusaha lebih leluasa mencintai antum-antunna. Diluar hal itu, saya sekarang merasa ada nuansa kekeringan ambience
cinta di organisasi ini. Pun demikian yang saya rasakan di organisasi dakwah selain Forkom. Fakta jauh berkurangnya staf organisasi (dibandingkan zaman saya sehingga akibatnya jumlah kerja per staf
semakin menumpuk), jumlah ketersediaan mentor per angkatan yang semakin berkurang (bahkan ada kelas yang tanpa mentor), fenomena dementor (keengganan yang amat sangat untuk menjadi mentor), kesibukan yang semakin bertambah (semisal dengan penerapan kurikulum mayor-minor IPB yang membuat Sabtu menjadi hari lain kuliah), dan tuntutan zaman (seperti ortu yang makin sibuk kerja sehingga minggu harus dirumah bercengkrama bersama keluarga) adalah beberapa faktor yang saya rasa mencetuskan fenomena ini.
Berkurangnya penghayatan akan nilai dakwah adalah faktor fundamental lain yang menyebabkan hal ini. Saya merasakan makin sedikit ikhwah SMANSA yang benar-benar paham akan, ” Apa itu dakwah? Bagaimana ekspresi dakwah yang benar?” Tidak ada lagi tantangan berupa keharusan mengadiri tasqif dwi mingguan yang pulangnya bisa sampai jam 00.00, bahkan 00.30 (Say terus terang rindu tasqif semacam ini). Sedikit pula acara-acara dengan nuansa ruhiyah-kasih yang cukup kental, ruhiyah
seperti acara “dari hati-ke-hati” . Acara dimana personel forkom leluasa mengkespresikan diri (bercerita mengenai masalah keluarga, masalah diri, dan masalah akademik sehingga personel lain tahu dan bisa ikut berempati) sangat kurang. Jarang pula ada kesadaran ikhwah untuk membaca buku yang memperkokoh dakwah, semisal Fikih Sunnah, Manhaj Haroki, Sirah Nabawiyah, Fikh Dakwah, Risalah Pergerakan, dll. Lebih lazim rasanya bila mendengar ikhwah “khatam” Harry Potter, Da Vinci Code, Tetralogi Laskar Pelangi, dan serentetan karya Habiburahman El-Shirazy. Tak heran, banyak ikhwah yang kekurangan referensi mengenai bagaimana berdakwah, khususnya mengenai bagaimana mengekspresikan cinta dalam konteks dakwah. Banyak yang asing dengan Rasulullah SAW, teladan utama dalam ekspresi cinta di jalan dakwah. Saya kira berbagai fakor diatas harus menjadi perhatian besar MS, ketua, dan ketua bidang. Bagaimana pula kita yang tidak tergolong punya jabatan strategis? Saya kira kita bisa berpartisipasi dengan terus mencurahkan kasih sayang ke sesama anggota Forkom;
bawahan-atasan, lebih senior atau lebih junior, juga ke adik-adik kelas kita (sebagai calon anggota Forkom) sehingga nanti tertarik bergabung dengan organisasi ini. Bentuknya bisa beragam, mulai dari
SMS tausiyah, memberi kado di hari spesial (juga hari-hari biasa), menanyakan kondisi pribadinya (keluarga), berkunjung ke rumahnya, dan bertukar info lewat telepon (bukan SMS yang kering nuansa ruhiyah).

Ini adalah sedikit cara melakukannya. Pemakai operator Three bisa SMS tausiyah yang notabene gratis sesama pemakai Three, pun begitu dengan pemakai Telkomsel (menggunakah jatah SMS gratis atau penukaran POIN). Forkomers bisa juga menggunakan keleluasaan yang ditawarkan operator lain untuk bertelepon murah, bahkan gratis. Kita bisa juga SMS gratis via internet.
Upaya yang lain bisa dilakukan dengan berbagi dengan saudaranya akan apa yang dimilikinya secara berlebih. Berbagi cokelat misalnya, bila bapak atau keluarga yang lain bekerja di pabrik cokelat. Kita dapat pula berbagi HP dengan rekan yang HP-nya baru hilang di kereta (biasanya anak UI ^_^;) bila bapak kita kebetulan punya toko HP bekas atau bekerja di salah satu produsen HP. Patut diingat untuk
melancarkan cinta sesuai kaidah dakwah, seperti menghindari SMS tausiyah antar ikhwan-akhwat, kecuali memang sudah menjadi penugasan organisasi (seperti Daina di Binukh). Jangan sampai pula kita, anggota Forkom, melakukannya hanya ketika ada keperluan (baik pribadi maupun organisasi saya). Itulah nasehat MR saya. Alangkah egoisnya bila kita melakukannya ketika sedang butuh. Lalu, apa bedanya kita, yang ditarbiyah dalam nilai-nilai dakwah dengan mereka yang tidak tercelup nilai-nilai mulia ini? Saudaraku, mari tunjukkan ekspresi cintamu, sekarang… saat ini.

Salam sayang,
Akhukumfillah,

One thought on “SUARA HATI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s