10 WASIAT HASAN AL-BANA (part 2)


5. Jangan banyak tertawa, karena hati yang tersambung dengan Allah akan tenang dan teduh

  • Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati, dan menghilangkan kharisma seorang mukmin.”
  • Pandangan Plato dan Aristoteles dalam hal ini sepakat bahwa tertawa merupakan salah satu reaksi jiwa yang berbahaya dan merugikan. Untuk itu, Plato berharap sandiwara komedi disaksikan oleh orang-orang biasa dan tidak oleh orang yang dikenal wara’, pemikir, dan mulia di kalangan masyarakat. Aristoteles juga melarang para pemuda untuk menonton sandiwara komedi yang banyak mengundang tawa, karena khawatir mereka akan dijangkiti kerusakan.
  • Tertawa yang diharamkan adalah tertawa yang terlalu sering dan melampaui batas. Hal ini karena tergolong menjadi permainan dan melenakan dari kesungguhan dalam berbagai hal.
  • Contoh tertawa yang baik dalam hal ini adalah para Nabi dan Rasul Allah. Banyak riwayat mengatakan bahwa Nabi kita Muhammad saw. tertawa, tetapi tertawanya tidak melampaui batas atau hanya tersenyum. Senyum Rasulullah saw. yang paling maksimal adalah Nampak gigi gerahamnya.
  • Abdullah bin Harits mengatakan, “Saya tidak pernah melihat orang yang paling sering tersenyum selain Rasulullah saw., para sahabat banyak yang mencontohnya. Jika di antara para sahabat tertawa, maka tidak lebih dari tersenyum, mereka tidak berlebihan dalam hal itu.”

6. Jangan bercanda, sesungguhnya umat pejuang hanya mengenal keseriusan

  • Islam mensyaratkan bercanda yang diperbolehkan, di mana sang pencanda senantiasa komitmen dengan kebenaran terhadap apa yang dikatakannya, tidak memperpanjang, tidak menjadikan bercanda sebagai prioritas, karena dengan itu akan sering jatuh pada kebatilan yang berupa kepalsuan dan kebohongan

7. Jangan keraskan suaramu melebihi hajat pendengar, karena itu mengganggu

  • “…Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19)
  • Mengeraskan suara adalah kebiasaan orang jahiliyah. Dahulu mereka memandangnya sebagai sebuah tanda kemuliaan/prestise dan derajat yang tinggi. Mereka menganggap orang yang paling keras suaranya adalah orang yang mulia. Sedangkan orang yang suaranya rendah dan kecil dianggap orang yang paling hina.
  • “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalanmu , sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS Al-Hujurat:2-4)
  • Yang dimaksud dengan larangan di ayat ini dengan tidak melarang mengangkat suara secara mutlak kecuali jika itu dibutuhkan pendengar, maka pada saat itu meninggikan suara tidak dilarang, atau bahkan dengan suara lantang bisa membuat musuh takut, atau seseorang memang bersuara lantang, ini semua tidak terlarang. Namun yang terlarang adalah yang dilarang oleh islam, yaitu karena berlebihan dan mengganggu.
  • Mengangkat suara tanpa ada keperluan, meski tidak terpuji pada dirinya, maka cukuplah itu membuatnya buruk dan tidak disukai.

2 thoughts on “10 WASIAT HASAN AL-BANA (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s