Tentang Hidup #2


aku bingung

kenapa aku jadi suka mengeluh?

kenapa begini, kenapa begitu

mengeluhkan apapun, tentang apa saja

diriku, hidup, orang-orang, perubahan, keadaan, ketidakadilan, cuaca, tugas, deadline, lalulintas, sistem, pemerintah, presiden, hmph…

aneh..

kenapa mengeluh?

buang tenaga..

seharusnya bibir ini lebih banyak mengucap syukur..

buat apa mengeluhkan hidup?

toh, hidup hanya minta aku bergulir bersama waktu,

hidup hanya rentang aku lahir sampai aku mati. hanya itu kan?

yang jadi soal adalah tujuan hidup.itu pilihan.

mw punya tujuan atw tidak.

klo tidak, biarkan saja diri ini bergulir bersama waktu tidak jelas menuju apa, mengawang-awang

klo punya, tentukan sikap, raih yg ingin dituju. dengan apa? banyak.

warnai hidup dengan ikhtiar, gantungkan pelangi itu, tata gemintang dilangit-langitnya..

tapi ada juga yang bilang hidup itu yang pilihan..

mksudnya milih mw hidup atw ga???

gimana sih??

tambah bingung,,

ah,, siapa peduli..

aku tak harus meniru apa yg orang bilang,,

terus,,

buat apa mengeluh?

seharusnya bibir ini lebih banyak mengucap syukur

buat apa menyalahkan keadaan?

aku yang salah, kenapa begitu bodoh mw dipengaruhi keadaan,,

bukankah seharusnya aku yang merubah keadaan?

ini terbalik. yang mana subjek yang mana objek?

terus, kenapa aku harus mengeluhkan perubahan, mengeluhkan kelabilan?

kelabilan bukan kekurangan, tapi keniscayaan. mw ga mw semuanya juga berubah. perubahan adalah keniscayaan.perubahan akan menyisakan banyak sekali pelajaran.

lagian memangnya apa yang bisa diharapkan dari kemonotonan?

kenapa aku terlalu berpikir rumit bagaimana harusnya menjalani hidup?

banyak orang-orang di luar sana yang pikirannya lebih banyak dipenuhi dengan ‘apa yang bisa di makan esok hari’, bagaimana bisa bertahan hidup, bukan karena tidak mw memikirkan yang lain, tapi karena memang tidak bisa, tidak punya kesempatan. Lantas, apa mereka salah??

sedangkan aku disini,, seharusnya banyak yang bisa aku pikirkan, tapi kenapa malah bilang malas, kenapa malah bilang ini beban?

aku aneh,,

seharusnya aku lebih banyak mengucap syukur

terus,,

buat apa mengeluhkan takdir tidak adil,

aku yang terlalu aneh, menganggap ukuranku sama dengan ukuran Tuhan, menganggap ilmuku sudah melangit, hatiku yang terlalu dangkal,,

buat apa mengeluhkan orang-orang, pemerintah, presiden,,

ah, tak penting,,

seperti aku yang paling benar, paling hebat, paling mengerti,,

aku terlalu naif. tidak solutif. berpikir kalau cukup dengan mengeluh semua akan beres.

dunia tidak butuh keluhanku. dunia menantiku bergerak.

diambil dari: http://celahlangit.blog.friendster.com/2008/10/hmph/

One thought on “Tentang Hidup #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s