hikmah LP #1


“Hujan di Belitong selalu lama dan sejadi-jadinya seperti air bah tumpah ruah dari langit, dan semakin lebat hujan itu, semakin gempar guruh menggelegar, semakin kencang angin mengaduk-aduk kampung, semakin dahsyat petir sambar-menyambar, semakin giranglah hati kami. Kami biarkan hujan yang deras mengguyur tubuh kami yang kumal. Ancaman dibabat rotan oleh orangtua kami anggap sepi. Ancaman tersebut tak sebanding dengan daya tarik luar biasa air hujan, binatang-binatang aneh yang muncul dari dasar parit, mobil-mobil proyek timah yang terbenam, dan bau air hujan yang menyejukkan rongga dada.

Kami akan berhenti sendiri setelah bibir membiru dan jemari tak terasa karena kedinginan. Seluruh dunia tak bisa mencegah kami. Kami adalah para duta besar yang berkuasa penuh saat musim hujan …. “

Penggalan cerita di atas merupakan sebuah deskripsi indah dari banyak deskripsi indah yang dipaparkan Andrea dalam bukunya ‘Laskar Pelangi’. Imajinasinya yang tinggi berkolaborasi dengan kelihaian merangkai mutiara kata membuat kita dapat tenggelam ikut merasakannya. kebahagiaan dan keindahan begitu kuat ia tunjukkan, memancing rasa iri dalam hati untuk ikut merasakan apa yang diceritakan.

Itulah yang membuatku kagum pada tulisan seorang Andrea. Melalui goresan tangannya, ia mengajariku hal yang sangat mendasar, fundamental lagi esensial, yaitu: bagaimana memandang hidup. Lagi-lagi aku merasakan banyak sekali ‘keterlewatan’ dalam hidupku (jangan tanyakan padaku mengenai benar-salah istilah itu. karena aku ingin mendalami makna, dan mengesampingkan rupa). maka saat ini, aku seperti belajar dari awal. ibarat bayi yang belajar merangkak, ibarat anak kecil yang belajar mengeja huruf ‘R’, dan ibarat anak SD yang belajar berhitung tambah-tambahan sederhana. aku sangat merasa bodoh, merasa kecil.

Aku tidak terlalu memedulikan kebenaran kisah yang ia paparkan. aku tidak peduli. bahkan sekalipun aku tahu cerita itu hanya fiksi, biarlah kujadikan kenyataan dalam imaji. karena ceritanya benar-benar seperti mimpi, indah mutlak, bahagia yang sempurna. karena hidup adalah bagaimana kita memandang hidup. dan aku belajar banyak tentang ini dari para penikmat hidup yang menyalurkan kebahagiaannya dalam untaian tulisan menggugah dan mengubah.

Maka, hikmah pertama dalam membaca buku ini adalah: syukurilah hidupmu! dan kau akan menikmatinya

(Aku tidak yakin benar rangkaian kata di atas dapat mendeskripsikan dengan baik apa yang hendak kusampaikan. maka sedikit ilustrasi agaknya perlu untuk membantu)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..” (QS. Al-Imron: 190)

Pernahkah kita merasakan alam? merasakan indahnya? menikmati sejuk udaranya di shubuh hari? merasakan dingin yang menusuk di malam hari? menikmati panas yang menyengat di siang hari? memandangi indahnya langit malam? mengagumi ke-elegan-an langit senja? mendalami simfoni kicauan burung dan bunyi jangkrik yang berkolaborasi bersama hewan lain? dan sangat banyak fenomena alam lainnya?? aku pernah, dan kuyakin kita semua pasti pernah. pernah mengalaminya.

namun seberapa sering kita mensyukurinya? bukankah yang biasa kita lakukan adalah mengutuki waktu shubuh karena dinginnya yang menusuk? dan kita meringkuk dalam selimut tebal, hingga terbangun tergesa-gesa karena tidak terasa langit sudah cukup terang menandakan kita “kesiangan”? maka di saat bersamaan kita melewatkan nikmat udara segar yang memanjakan, yang melegakan rongga dada kita, menyehatkan tubuh kita, menumbuhkan optimisme dalam menjalani hari kita.

pernahkah kita mensyukuri malam? memandangi langit bertaburan bintang, merenungi bulan sebagai bukti kebenaran firman Tuhan, berkontemplasi pada gugusan bintang -walau otak ini tak mengerti astronomi sama sekali-? merasakan hawa dinginnya malam? dan mendengarkan bunyi serangga bertalu-talu? ataukah kita terjebak dalam rutinitas menonton televisi dengan tayangan tak berarti? menjalaninya dengan rasa bosan yang ditangguhkan? dengan ditemani makanan ringan hingga terbawa tidur larut malam? maka sekali lagi, kita telah melewatkan sesuatu yang sangat amat berharga.

Di sini, aku tidak ingin menghakimi. sesungguhnya ini adalah refleksi bagi diriku sendiri. aku tersadar, deskripsi tadi adalah pengalamanku sendiri. maka, masih banyak peristiwa dalam hidup ini yang kulewatkan. bahkan mungkin terlalu banyak.

Kesalahanku tidak berhenti hanya pada salah menafsirkan keberadaan alam. aku juga tidak mampu mendalami banyak nikmat: persahabatan, pendidikan, cinta, orang tua, kepercayaan, senyuman, kebersamaan, dan lain sebagainya. aku terlalu sering menafikannya, dan rasa-rasanya hatiku jadi demikian mati untuk menyadari. namun saat ini: aku ingin kembali. terima kasih untuk kalian para penikmat hidup yang mengajariku satu hal dasar yang sering kulupakan: bersyukur.

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

_________________________________________________________________________________________

Rd. Adjie Wicaksana T. R
Industrial Engineer ITB
obenk_10089@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s