Tugas DAT


Motivasi bergerak?

Saya percaya, setiap orang melaksanakan suatu aktivitas pasti selalu didasarkan oleh motif tertentu. Baik disadari maupun tidak, motif itulah yang melatarbelakangi aktivitasnya. Motif ini, dapat berasal dari dalam diri, namun dapat juga berasal dari luar (lingkungan). Misalnya saja, ada orang yang melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid karena memang memahami keutamaannya dan berkeinginan kuat dari dalam dirinya untuk mampu mengamalkannya. Namun, bisa jadi ia melaksanakannya karena ia berada dalam sebuah asrama yang ‘memaksa’-nya untuk secara rutin melaksanakan shalat shubuh berjamaah.

 

Terkait dengan pergerakan di kampus, pastinya juga setiap mahasiswa memiliki motif masing-masing dalam menjalankan aktivitasnya. Pada awalnya, saya sangat ingin tahu, apa sebenarnya yang melatarbelakangi beberapa mahasiswa untuk rela bersibuk-sibuk dalam ranah kemahasiswaan, dicap ‘aktivis’, dan lain sebagainya. Keingintahuan saya bercampur menjadi keheranan tatkala saya mendapati fakta bahwa tidak semua aktivis kampus mampu mempertahankan perjuangannya dan integritas dirinya saat ia berada di luar kampus (uda lulus).

 

Saya mencoba berpikir sejenak, kira-kira apa yang menyebabkan hal tersebut. Maka, saya menemukan jawaban, bahwa segala sesuatu bergantung pada niatnya. Para aktivis kampus yang tidak mampu mempertahankan perjuangannya saat ia berada di dunia pasca kampus, saya pikir tidak memiliki motif yang kuat dan mendasar yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Oleh karena itulah, saat ia dihadapkan dengan kondisi yang melenakannya, ia menjadi terbuai dan terlupa dengan hakikat perjuangan yang dulu pernah diusahakannya.

 

Euphoria kampus seringkali menipu mahasiswa aktif dalam jurang disorientasi. Saat saya mengetahui fakta ini, maka saya bertekad untuk menguatkan niat saya dari dalam diri. seperti pak Sugiharto yang melandasi perjuangannya dengan keyakinan bahwa “amal yang terbaik adalah amal yang bermanfaat bagi banyak orang”, juga seperti pak Haryoto yang melandasi hidupnya dengan konsep “manusia sebagai khalifah”, juga seperti pak Faisal yang berorientasi dalam mempersiapkan bekal menuju kematian dalam setiap nafas hidupnya, saya pun akan berusaha melandasi pergerakan saya dengan motivasi yang kekal, yaitu: bentuk ibadah saya kepada Allah SWT


Langkah strategis untuk menyatukan KM ITB?

Saya pikir, untuk menyatukan KM ITB, tidak ada jalan pintas. semuanya harus bertahap. dan momen paling menentukan adalah pada saat tingkat 1, dimana pemahaman mahasiswa kala itu masih “bersih” dan belum terdoktrin oleh paham-paham konvensional arogansi himpunan. Maka, seharusnya Kabinet mampu memfasilitasi dan mengedukasi sebanyak-banyaknya mahasiswa tingkat 1 untuk benar-benar memahami arti Keluarga Mahasiswa ITB.

 

Walau begitu, tidak ada kata terlambat. Jika memang momen itu sudah lewat, maka saya pikir langkah strategis lainnya adalah dengan mencoba memberikan pemahaman yang merata kepada elit-elit himpunan dan unit, mengenai SATU KM ITB. mengenai orientasi lembaga kemahasiswaan. mengenai urgensi kita bersinergi dan bekerjasama untuk meraih visi bersama.

 

to do next?

Dalam hati saya, saya sangat berkeinginan untuk membangkitkan lagi nilai-nilai kemahasiswaan di ITB. Sejujurnya saya sudah cukup jenuh dengan kondisi mayoritas himpunan yang tidak produktif. Kegiatan rutinnya hanyalah bermain pingpong, kartu, makan, ngenet, dll. Acara favoritnya hanyalah makrab, home tournament, wisuda, dan semacamnya. Saya tidak bilang kegiatan-kegiatan itu salah. Namun, saat kita tidak mampu melaksanakan hak dan kewajiban kita secara proporsional, maka memang ada yang salah dengan kita.

 

Maka sekali lagi, saya ingin menumbuhkan sense kemahasiswaan yang cakap, kritis, dan kontributif di lingkungan ITB. dan saya pikir, langkah strategis untuk menanamkan nilai ini adalah pada proses kaderisasi. sehingga yang ingin saya lakukan ke depan adalah memperbaiki orientasi dan sistem kaderisasi himpunan pada khususnya, mulai dari himpunan saya sendiri, dan lalu mulai menginisiasi standardisasinya dengan himpunan lain. Ada juga keinginan untuk menjadikan PSDM kabinet sebagai sarana untuk mewujudkan keinginan saya tersebut, namun saya belum dapat memastikannya untuk saat ini.


Apa itu KM ITB?

Simpelnya, saya menganggap KM ITB sebagai WADAH. WADAH bagi mahasiswa ITB untuk berkomunitas, mengaktualisasi dirinya, dan berusaha untuk belajar dan memenuhi kebutuhan dirinya masing-masing, dalam berbagai dimensi. KM ITB sebagai WADAH bagi para mahasiswa untuk belajar, berkarya, berbakti, dan berkontribusi. WADAH untuk berkembang bersama-sama. WADAH untuk memenuhi hak, dan menjalankan kewajiban kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s