Narasi Besar di Zamrud Khatulistiwa


oleh : 

Rd. Adjie Wicaksana (mahasiswa teknik industri ITB angkatan 2007)

 

Kawan…

            Pernahkah engkau membayangkan sebuah negeri indah nan elok yang membentang luas terbelah garis khatulistiwa?

            Negeri itu begitu nyaman. Alamnya sangat rupawan. Gunung menjulang, pantai dan laut terbentang, hutan tropis memberikan keteduhan, dan berbagai lukisan Tuhan yang tidak akan pernah mampu disetarakan dengan keindahan buatan manusia.

            Dalam negeri indah itu, tinggal ratusan juta manusia luar biasa yang dapat menentramkan kita hanya dengan senyum dan kehangatannya. Anda tidak akan pernah merasa khawatir berada di sana, karena budaya tolong menolong sudah mengakar hingga ke setiap pribadi mereka. Kesantunan bertemu dengan keluhuran budi dan tingginya intelektual menjadikan masyarakat ini masyarakat yang dapat membuat semua orang betah berlama-lama membersamai mereka.

            Tinggallah sebentar bersama mereka dan Anda akan takjub melihat pola hidup mereka. Setiap mereka menjadi seorang yang sangat haus akan pendidikan. Fasilitas pendidikan sangat mudah untuk dijumpai dan diakses oleh siapapun. Itulah mengapa seluruh masyarakat negeri pasti mampu mengenyam dunia pendidikan minimal hingga tingkat menengah atas. Dan perhatikanlah! Sekolah mereka tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu sains yang terbatas. Luar biasanya, mereka diajarkan bagaimana menjadi manusia yang utuh. Pendidikan ini semakin memanusiakan mereka sebagai manusia. Maka tidak heran kepribadian mereka begitu luhur, antusiasme mereka terhadap ilmu pengetahuan begitu tinggi, karena mereka tahu menjadi seorang yang berilmu adalah suatu yang mulia dan mengantarkan mereka kepada seorang yang bermanfaat bagi sesama.

            Universitas bukanlah tempat bagi para cendekia untuk meraih gengsi, bukan juga berorientasi pada pekerjaan tinggi. Perguruan tinggi benar-benar menjadi center of excellence yang selalu mengeluarkan inovasi-inovasi yang melayani dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

            Masyarakat di sana hidup dengan sederhana. Namun kebahagiaan dan kepuasan terpancar kuat dari raut setiap wajah mereka. Mereka sejahtera, saling mengasihi, dan itulah yang membuat mereka bahagia. Pemimpin mereka adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, dan oleh karena itu pula ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Posisi pemimpin adalah posisi yang sangat mulia karena pekerjaannya adalah melayani masyarakat.

            Ah, terlalu banyak yang dapat kubayangkan tentang negeri elok ini. Tak kan pernah habis kata-kata untuk menggambarkannya.

Kawan… ingin kukatakan padamu, negeri ini, bernama Indonesia, sang Zamrud Khatulistiwa.

-sepenggal deskripsi Indonesia masa depan

 

VISI INDONESIA MASA DEPAN

Tahun 2009, merupakan tahun bersejarah bagi Negara Indonesia. Pada tahun ini sebuah bangsa menentukan masa depannya, minimal untuk 5 tahun ke depan. Pesta demokrasi terbesar diselenggarakan dalam rangka memilih anggota perwakilan rakyat dan pemimpin Negara (presiden) yang akan menentukan masa depan bangsa.

Seperti biasanya, seluruh calon dan partai politik secara “tiba-tiba” memiliki program-program dan janji-janji yang luar biasa hebat. Janji itu begitu “meyakinkan” dan mampu menghipnotis rakyat untuk memilih dan memercayai mereka.

Namun sayang, pesta demokrasi semacam ini bukanlah kali pertama diadakan di Negara berpenduduk lebih dari 200 juta manusia ini. Untuk kesekian kalinya partai politik dan calon pemimpin mengumbar janji, dan sudah berkali-kali pula terbukti bahwa janji-janji itu hanyalah janji-janji kosong tak berisi; melenakan, dan tidak memotivasi. Jangankan menjadi oase dalam panasnya gurun pasir, dianalogikan sebagai fatamorgana saja janji-janji itu rasanya tak lagi pantas.

Gegap gempita pesta demokrasi dan derasnya umbaran janji-janji terkadang membuat kita lupa akan kenyataan. Mari kita tengok sedikit realita bangsa kita akhir-akhir ini:

  • Indeks Pembangunan Manusia (United Nations): Peringkat 108 dari 177
  • Indeks Kualitas Hidup (The Economist): Peringkat 71 dari 111
  • Indeks Kebebasan Ekonomi (Heritage Foundation/The Wall Street Journal): Peringkat 110 dari 157.
  • Indeks Persepsi Korupsi (Transparancy International): Peringkat 130 dari 163.

(sumber:    http://jurnalhukum.blogspot.com/2007/06/visi-indonesia-2003.html,

                  http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Kualitas_Hidup, dll)

 

 
   

Rasa-rasanya semua akan sepakat bahwa data di atas bukanlah fakta yang layak untuk dibanggakan. Indonesia mungkin masih berada dalam keterpurukan. Oleh karenanya kita harus bangkit! Dan untuk itu pertama kali kita harus memiliki optimisme dan keinginan yang kuat untuk merangkak naik menuju masa depan yang cerah.

first

Rakyat Indonesia saat ini tidak membutuhkan janji-janji kosong itu. Kita membutuhkan sebuah mimpi bersama. Mimpi tentang INDONESIA MASA DEPAN. Saat ini bukan saatnya bagi kita untuk berpangku tangan terhadap segelintir orang yang duduk di Senayan. Bukan saatnya pula kita bersikap egois dalam memikirkan masa depan kita pribadi sembari menafikkan keadaan masyarakat di sekeliling kita. Kita membutuhkan sebuah MIMPI bersama, yang diejawantahkan ke dalam GAGASAN, yang terINTERNALISASI kepada mayoritas masyarakat Indonesia, hingga mampu menumbuhkan MOTIVASI untuk begerak bersama-sama, menuju realisasi VISI INDONESIA MASA DEPAN.saring

Visi bersama ini dapat lebih kuat karena seluruh kepentingan akan terfasilitasi di sana. Ini bukanlah perang kepentingan antar partai. Bukan pula perang ideologi antar kelompok. Mimpi ini mengintegrasikan seluruh elemen bangsa, dan oleh karenanya, memacu kita untuk bersatu mencapai mimpi tersebut.

Gagasan visi ini pun bukan kali pertama hadir di Indonesia. Kita juga tahu bahwa sempat tercetus Visi Indonesia 2020, Visi Indonesia 2030, dan Rencana Strategis Jangka Panjang dari Pemerintah. Namun, visi-visi itu memiliki kelemahan mendasar, yaitu tidak mengakomodir seluruh kepentingan Bangsa dan tidak datang “langsung” dari rakyat sehingga menyebabkan visi yang ada tidak berujung pada motivasi bersama.

Namun tidak mengapa, segalanya butuh proses dan kesalahan-kesalahan tersebut sebaiknya kita jadikan pelajaran agar tidak kita ulangi di masa kini dan masa depan. Saat ini, sudah saatnya bagi Bangsa ini untuk bangkit! Sudah saatnya seluruh elemen bangsa bersatu! Mari kita berkumpul dalam suatu lapangan luas, meski dengan pakaian kita masing-masing, demi meneriakkan satu kalimat: MASA DEPAN INDONESIA!!!

Dan mahasiswa, dalam perannya yang strategis sebagai agent of change dan cendekiawan muda, yang memiliki berbagai bidang keilmuan dan bermacam latar budaya yang tersebar di seluruh Indonesia. Mahasiswa, dengan segala semangatnya, netralitasnya, dan dengan seluruh pesona revolusinya, sudah selayaknya untuk menginisiasi mimpi ini. Mendeskripsikan dalam VISI, dan mengejawantahkan dalam STRATEGI. Namun mereka tidak sendiri, mereka bergerak bersama seluruh elemen bangsa yang memiliki keinginan untuk mengawal Indonesia menuju kejayaannya di masa depan.

Kali ini, sudah seharusnya mahasiswa menjadi motor dan event organizer bagi perancangan VISI INDONESIA BARU. Dalam waktu intensif 2 atau 3 tahun, seluruh aspek dan elemen bangsa ini direncanakan secara detail. Ekonomi, globalisasi, teknologi, politik, sosial, ketahanan, pendidikan, kesehatan, budaya, dan lain sebagainya.

Seluruh upaya ini sudah selayaknya dimotori oleh kaum muda, terutama mahasiswa. Hingga pada saatnya nanti, ide mengenai VISI INDONESIA MASA DEPAN akan tersebar ke seluruh elemen masyarakat. Menggugah, memotivasi, dan merasuk ke dalam setiap jiwa-jiwa rakyat dan pemuda Indonesia.

las

Maka percayalah, saat itu terjadi, Indonesia sudah berada dalam jalur yang tepat menuju kejayaannya. Cepat atau lambat, Indonesia akan menjadi Negara indah sang Zamrud Khatulistiwa seperti tergambar pada deskripsi di awal essai. Dan dunia akan menyaksikan, bagaimana Macan Asia kembali bangkit perkasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s