[GAMAIS 2010] GAMAIS IN(my)SIDE


GAMAIS ITB merupakan salah satu lembaga kemahasiswaan di ITB. Lembaga ini merupakan unit terbesar dan tersebar di ITB. Dengan jumlah kader terdata lebih dari 1000 kader, unit ini memiliki potensi yang sangat besar dalam memberikan warna di kehidupan kampus pada khususnya dan bagi masyarakat luas pada umumnya.

Bagi diri saya secara pribadi, GAMAIS ITB merupakan organisasi yang mampu memberikan saya banyak hal: teman, sahabat, keluarga, pembelajaran, dan lain sebagainya. Saya mendapatkan sangat banyak di sini, dengan bekal yang saya dapat dari saat saya menjalani OASIS di tingkat satu. Saat itu salah seorang BPH GAMAIS (kalo ga salah kak Gamma) berkata: “Jangan lihat apa yang diberikan organisasi ini kepadamu, tapi perhatikan apa yang telah kamu berikan kepada organisasi ini. Karena dengan memberi, kamu akan mendapatkan banyak hal”. Subhanallah..

Sebelum saya menyampaikan harapan dan mimpi saya mengenai GAMAIS ITB, saya akan menyampaikan pandangan saya tentang GAMAIS ITB sehingga antum dapat lebih memahami pola, cara, dan latar belakang berpikir saya.

OASIS 2007 : Sebuah Inisiasi Kontribusi

OASIS merupakan momen pertama saya mengenal GAMAIS ITB. Motivasi saya saat itu adalah berharap mendapatkan komunitas yang baik untuk menjaga saya, mendukung perkembangan diri saya, dan berharap bisa ikut sholeh (hehe..).

Saat di OASIS, saya mendapatkan pesan yang sangat dalam seperti yang saya tulis sebelumnya, mengenai kontribusi kita pada organisasi. Saya juga mendapatkan kesan yang dalam saat melakukan shalat dan doa bersama di malam hari di puncak bukit bersama kak Iqbal.

Koordinator Wilayah : Membangun Cara Berpikir yang Luas dan Holistik

Di saat pelantikan OASIS 2007, saya diamanahkan untuk menjadi salah satu dari 3 orang wakil angkatan (ikhwan). Saat itu saya diamanahkan untuk menjadi koordinator wilayah angkatan 2007. Koordinator Wilayah yang biasa disebut KorWil ini bertugas untuk mengkoordinasikan seluruh kader Gamais 2007 yang tersebar di berbagai fakultas, sekolah, dan program studi.

Saya mengakui bahwa saya saat itu belum mampu menjalankan peran KorWil tersebut dengan baik. Saya masih terlalu kaku dengan budaya GAMAIS saat itu. Namun satu hal yang saya dapatkan dari momentum ini adalah, saya mulai membangun cara berpikir yang luas dan holistik, khususnya mengenai koordinasi pusat-wilayah di GAMAIS ITB.

Muktamar GAMAIS : Awal Visi Besar Membangun Peradaban

Muktamar GAMAIS merupakan saat dimana GAMAIS ITB membuat suatu grand design berupa blue print organisasi untuk jangka waktu 6 tahun (hingga tahun 2013).  Saat itu saya menjadi panitia dokumentasi dan bertugas untuk menjadi notulensi di bagian dakwah GAMAIS (pusat-wilayah). Forum ini merupakan forum yang teridiri dari kepala setiap LDP-LDW dan membahas tentang hal-hal mendasar di GAMAIS (visi, misi, logo, jargon, pembagian kerja pusat-wilayah, dll).

Muktamar GAMAIS merupakan salah satu titik dimana saya menetapkan niat saya untuk aktif di GAMAIS ke depannya. Karena saya yakin dengan adanya visi 2013 ini, usaha yang dilakukan GAMAIS akan terus berkembang, tidak stagnan apalagi menurun; suatu hal yang sangat saya inginkan terjadi di setiap organisasi kemahasiswaan: continuous improvement.

Rapat FSLDK di Semarang : Membangun Paradigma Dakwah Kampus Nasional

Saya merasa sangat beruntung saat diajak oleh kepala GAMAIS ITB saat itu (kak Yusuf) untuk ikut mendampingi beliau dalam rapat pimpinan FSLDK se-Indonesia yang berlangsung di Semarang sekitar bulan Januari 2008.

Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat disana. Walaupun memang sedikit minder karena hampir semua yang ada disana adalah petinggi-petinggi organisasi yang merupakan angkatan 2003, 2004, dan 2005 (ada juga sih beberapa yang 2006 dan 2007), saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengalaman seperti ini. Jujur saya awalnya tidak mengetahui dan kurang peduli dengan keadaan kampus lain. Namun sejak saat itu, saya menjadi mengerti bahwa di belahan bumi Indonesia manapun (bahkan belahan bumi manapun), pasti akan ada prajurit-prajurit Allah yang senantiasa menegakkan agama-Nya untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Saat itu juga saya mengerti bahwa GAMAIS ITB tidak hanya bertanggung jawab terhadap dakwah di kampus ITB, namun juga di luar. Bahkan di tingkat nasional, GAMAIS ITB memiliki tanggung jawab yang besar sebagai trainer PMLDK.

Sejak momen tersebut, saya belajar membangun paradigma dakwah kampus nasional. Saya bertekad untuk terus mengembangkan GAMAIS ITB lebih besar lagi sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi LDK lain di Indonesia.

Pelatihan Manajemen Lembaga Dakwah Kampus: Menyadari Kompetensi dan Kontribusi GAMAIS ITB di ranah Dakwah Kampus Nasional

“di Semarang itu juga kang Yusuf ngisi training di UNNES (IKIPnya Semarang). Saya belajar banyak saat itu. Saya jadi sadar betapa materi yang menurut saya udah ‘makanan sehari-hari’ di Gamais, bagi saudara2 di UNNES merupakan konsep yang sangat luar biasa dan inspirasional. Saya jadi pengen bisa ngisi juga, entahlah kapan, semoga Allah memberikan kekuatan untuk saya untuk melakukan sesuatu yang lebih.” (https://adjiewicaksana.wordpress.com/2008/05/02/gamais-inmyside/ pada Mei 2008)

GAMAIS ITB sebagai penanggung jawab PMLDK saat ini berperan sangat penting dalam pengembangan LDK-LDK di Indonesia. Saya juga bertekad untuk ke depannya GAMAIS ITB harus mampu lebih mengoptimalkan potensinya dalam hal ini.

Buka Bersama ITB : Pentingnya Syiar Skala Kampus dalam Pencitraan GAMAIS ITB

Pada saat saya diamanahkan sebagai kadiv acara buka bersama ITB, saya belajar banyak hal mengenai kepanitiaan, mengenai manajemen sumber daya manusia, bagaimana memimpin dengan hati, bagaimana mengayomi, bagaimana berkorban, bagaimana rasanya ditinggalkan, bagaimana rasanya dibantu,  bagaimana bersikap optimis, dan sangat banyak hal lainnya. Momentum ini merupakan salah satu kejadian yang paling berkesan selama saya berada di GAMAIS.

Secara program, saya belajar sangat banyak mengenai syiar. Bagaimana membuat syiar yang besar dan efektif. Apa saja urgensi syiar yang besar sebagai pencitraan dan pelayanan. Saya belajar banyak dalam hal syiar dari kegiatan ini. Hingga saat ini saya bertekad untuk menjadikan syiar GAMAIS : besar, menyebar, dan mengakar.

InTechno Train : Efektivitas Syiar dan Kaderisasi di Wilayah

InTechno Train merupakan rangkaian syiar dan kaderisasi di FTI yang diadakan oleh GAMIFTI. Pada momentum ini saya dapat mengambil pelajaran yang sangat banyak mengenai kinerja wilayah (khususnya LDF) yang mungkin sebelumnya masih sering sekedar dibicarakan urgensinya saja.

Pada acara ini, panitia memang mengalami defisit anggaran sebesar lebih dari 2 juta rupiah. Namun di balik itu, saya semakin yakin akan efektivitas wilayah yang lebih tinggi dibandingkan LDP dalam menjaring kader baru. Terbukti dari sekitar 80 orang yang berpartisipasi, tidak lebih dari 10 orang yang merupakan kader GAMAIS (hasil dari OASIS). Hebatnya lagi, sekitar 20-an orang yang mengikuti Super Camp (rangkaian kaderisasi di InTechno), tidak lebih dari 3 orang yang merupakan kader GAMAIS. Keyakinan saya semakin bertambah ketika menyadari bahwa lulusan InTechno cukup banyak yang meneruskan aktivitasnya di LDPS masing-masing.

Bagi saya, kekuatan LDF/S dalam menjaring kader baru, pencitraan GAMAIS, dan penyiapan inputan mahasiswa sebelum masuk program studi dan LDPS merupakan potensi LDW yang tidak dimiliki oleh LDP. Hal ini membuat saya bertekad untuk meningkatkan efektivitas syiar dan kaderisasi di setiap LDW.

Dauroh Aktivis Terpusat GAMAIS ITB

Aktivitas saya yang tidak tetap berada di LDP sebenarnya bukanlah tanpa perencanaan. Bahkan sejak tingkat satu saya sudah bercita-cita untuk dapat aktif di LDP. Namun saya memang berusaha untuk menyiapkan LDPS dan LDF yang saya berada di dalamnya agar saat saya beraktivitas di LDP saya tidak men-“zhalimi” kedua lembaga tersebut. Saya menyadari usaha saya memang belum memberikan dampak yang mampu menjamin kestabilan dua lembaga tersebut, namun saya pikir saya sudah mengusahakan yang terbaik.

Saya kemudian bermimpi untuk melakukan perbaikan sistem pusat-wilayah ini secara terpusat, agar dampaknya dapat menyeluruh dan lebih efektif. Oleh karenanya, saya mengusulkan adanya DAT-G yang bertujuan untuk mempersiapkan GAMAIS 2010 di pusat dan wilayah agar sistem ini dapat stabil sejak awal kepengurusan. Mimpi yang cukup besar, namun mungkin terlalu mendadak untuk mewujudkannya.

Saya menyadari bahwa DAT-G (yang kemudian menjadi GIT) ini tidak berjalan lancar. Namun secara konsep, saya yakin GIT ini sudah mampu memberikan awareness tersendiri akan urgensi penyiapan pusat-wilayah. Saya juga berharap jika konsep ini belum berjalan dengan optimal di tahun ini, masih dapat diusahakan di awal kepengurusan GAMAIS ITB 2010.

Dari GIT ini, saya semakin menyadari bahwa koordinasi LDP-LDW sudah seharusnya ditingkatkan agar terjadi sinergi yang baik demi terciptanya dakwah yang lebih optimal ke depannya.

One thought on “[GAMAIS 2010] GAMAIS IN(my)SIDE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s