[GAMAIS 2010] GAMAIS ITB (pusat-wilayah) : Harmonisasi menuju ITB Islami


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Konsep GAMAIS ITB yang memiliki struktur LDP-LDW sejak dua tahun lalu merupakan suatu potensi besar yang harus disadari oleh seluruh elemen dalam GAMAIS ITB. Sistem ini berpotensi untuk meningkatkan efektivitas syiar dan kaderisasi bagi massa kampus. Ketersebaran GAMAIS di setiap wilayah, baik fakultas, sekolah, maupun program studi mampu menjangkau lebih banyak massa kampus dan menjaring lebih banyak calon kader untuk dibina dan diberdayakan.

Namun kondisi di atas akan terpenuhi jika hubungan koordinasi dan sinergi antara LDP-LDW di GAMAIS ITB sudah stabil. Jika tidak, maka sistem ini akan menjadi suatu kelemahan bagi tubuh organisasi GAMAIS itu sendiri. Sulitnya distribusi kader, sulitnya menyesuaikan jadwal masing-masing, tidak meratanya kaderisasi dan syiar, serta tidak harmonisnya program kerja merupakan beberapa dampak dari sistem yang tidak berjalan dengan baik.

Oleh karena itu, sistem pusat-wilayah ini harus benar-benar dipersiapkan agar kita mampu mengoptimalkan keuntungannya dan meminimalisasi kekurangan yang ditimbulkannya. Lebih jauh kami berharap, stabilnya LDW dapat menjamin roda dakwah di kampus ITB, sehingga LDP dapat menjalankan peran dan memberikan kontribusi lebih banyak bagi dakwah di luar kampus.

Kami pernah mencoba membayangkan kondisi di saat sinergi antara pusat-wilayah sudah benar-benar tercapai. Agenda temu kader terpusat menjadi agenda yang sangat ditunggu-tunggu untuk menjadi ajang “temu kangen” kader yang tersebar di penjuru wilayah. “Besar”-nya GAMAIS ITB dapat benar-benar terasa saat lebih dari 1000 kader tersebut tumpah ruah di agenda TKT.

Syiar yang besar, menyebar, dan mengakar juga akan menjadi kenyataan. Harmonisasi syiar akan terwujud misalnya saat agenda syiar LDP (contoh: PMBR) dengan logonya yang tersebar di seluruh penjuru kampus. Tema yang digaungkan pun senada sehingga efek kepada objek dakwah menjadi semakin kuat terasa.

Maka rasanya tidak ada alasan lagi untuk GAMAIS ITB 2010 tidak mampu menstabilkan sistem pusat-wilayah ini. Angakatan 2007 yang nanti akan menjadi top management di GAMAIS merupakan angkatan termuda yang pernah merasakan muktamar. Oleh karenanya angkatan 2007 seharusnya mampu menjamin stabilitas sistem ini pada masa kepengurusannya.

Ada beberapa hal yang menurut kami dapat menunjang stabilitas sistem pusat-wilayah, antara lain dengan optimalisasi fungsi muspim dan lembar kendali wilayah. Muspim haruslah menjadi forum yang “stable” dan tidak banyak memiliki permasalahan internal. Mengapa? karena peran muspim sangat strategis dalam menentukan gerak dakwah di kampus ITB, juga dalam membangun sinergi antara program LDP dan LDW. Oleh karenanya menurut saya kepengurusan GAMAIS 2010 nanti sejak awal harus membangun basis pusat-wilayahnya dengan baik. Sekjen/ tim kewilayahan dengan para kepala LDW, begitu juga KaSek dengan KaSek LDW terkait. Dengan membangun basis itu sejak awal, diharapkan ke depannya akan lebih mudah dalam menjalankan operasional GAMAIS ITB.

Standardisasi administrasi juga menjadi penting bagi organisasi skala kampus seperti GAMAIS ITB. Hal ini penting bagi sisi administrasi juga bagi pencitraan yang harmonis di kampus ITB. Saat ini, masih banyak massa kampus yang tidak mengetahui bahwa LDPS juga merupakan bagian dari GAMAIS ITB. Untuk itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain terkait logo LDW, pencantuman logo GAMAIS dalam publikasi, penomoran surat, SOP tanda tangan Pembina, dan lain sebagainya. Diharapkan dengan adanya standardisasi ini, GAMAIS ITB dapat menjadi lebih matang dari segi birokrasi dan menjadi lebih kokoh dalam pencitraan dalam kampus.

Pelibatan wilayah juga sangat penting, salah satunya adalah dengan mekanisme award bagi wilayah terbaik. Hal ini bertujuan untuk membangun budaya fastabiqul khairat dan menjalin ukhuwah yang lebih baik antar lembaga. Reward yang dapat diaplikasikan misalnya LDF/S of the month dan LDPS of the month.

Luasnya lingkup kerja GAMAIS ITB di pusat dan wilayah haruslah ditunjang dengan baiknya sistem informasi. Sehingga, setiap informasi, penyusunan agenda, dan pendataan kader dapat diakses dengan mudah dan valid. Oleh karenanya menurut saya perlu dibuat sebuah sistem informasi minimal untuk penyampaian informasi, pengadaan database kader yang terintegrasi dan terupdate, serta mengenai sinkronisasi agenda (scheduling). Pembangunan sistem informasi ini dapat menjadi asset jangka panjang bagi GAMAIS. Sebaiknya pembangunannya juga melibatkan departemen lain yang terkait misalnya AkPro, MSDM, dan lain sebagainya.

Selain mekanisme reward, optimalisasi event terpusat seperti TKT juga menjadi penting untuk membangun ukhuwah dan sense SATU GAMAIS ITB. Kami sempat terpikir untuk mengadakan suatu acara/ event yang melibatkan seluruh potensi LDW dan dinamakan “wahana GAMAIS”. Event ini dapat diselenggarakan berkolaborasi dengan event lain, ataupun menjadi event sendiri.

Alur kepengurusan juga merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Idealnya, kepengurusan LDP-LDW dipegang oleh angkatan yang sama (misal untuk GAMAIS 2010, idealnya top managementnya adalah angkatan 2007). Hal ini penting untuk menjaga kesamaan suhu dan lebih efektifnya koordinasi antara pusat dan wilayah satu sama lain.

Masalah distribusi SDM juga seringkali menjadi masalah di kepengurusan GAMAIS ITB. Besarnya struktur GAMAIS ini mengharuskan adanya jumlah kader yang cukup untuk mengisi setiap pos. Permasalahan yang seringkali muncul adalah saat terdapat irisan antara satu lembaga dengan lembaga lainnya, yaitu antara LDPS dengan LDF/S. Hal ini sempat menimbulkan wacana peniadaan LDF/S karena dianggap tidak cukup efisien dalam pengadaannya, dan perannya masih dapat ditanggung oleh koordinasi LDPS.

Menanggapi kondisi di atas, saya berpikir bahwa LDF/S memiliki peran yang sangat spesifik yang tidak dapat digantikan oleh LDPS. Beberapa keutamaannya antara lain:

  • Sebagai perpanjangan tangan LDP dalam melakukan fungsi kontrol dan pengarahan kepada LDPS
  • Sebagai wadah aktivitas dan penjaringan kader TPB
  • Sebagai wadah yang baik dalam pengkaryaan kader muda GAMAIS ITB

Fungsi-fungsi di atas merupakan sesuatu yang dapat dicapai dengan adanya LDF/S. Namun strategi pemecahan solusi juga harus dilakukan agar kita dapat bersikap realistis dalam menghadapi tantangan. Strategi yang sempat saya pikirkan antara lain:

  • Kepala LDF/S merupakan angkatan yang setara dengan kepengurusan LDP
  • LDF/S memiliki peran sebagai perpanjangan tangan LDP dalam fungsi kontrol dan pengarahan terhadap LDPS
  • LDF/S memiliki seorang sekjen yang merupakan kader 1 tahun di bawah kepala
  • Sekjen ini merupakan “ketua” LDF/S dalam hal operasional dakwah TPB
  • Kadiv-kadiv didominasi oleh angkatan 1 tahun di bawah kepala LDF/S
  • Staff LDF/S sebaiknya merupakan angkatan TPB, sebagai bentuk penjaringan dan pengkaryaan yang baik
  • Maka, angkatan 2007 dapat berfokus pada top management, angkatan 2008 di middle management dan operasional, serta angkatan 2009 sebagai staff LDF/S

Dengan beberapa strategi di atas, saya yakin bahwa masalah yang ada dapat diselesaikan dengan tetap mengoptimalkan kelebihan dari struktur yang ada.

wallahualam bisshawwab..

7 thoughts on “[GAMAIS 2010] GAMAIS ITB (pusat-wilayah) : Harmonisasi menuju ITB Islami

  1. menurut saya LDPS/LDF harus dikasih titik tekan dan target yang realistis untuk dijangkau

    solusi yang ente tulis tuh ga tepat sasaran. sekarang gamais kekurangan kader, maka solusinya adalah kader harus cukup, gimana caranya agar kader harus cukup tahun depan. yaitu target rekrutmen harus jelas. misalnya 250 kader terbina.

    kalo strategi yang ente tulis mah justru bisa diterapkan saat jumlah akder mencukupi.

    1. yap.syukron masukannya..

      sebenernya target rekrutmen masih tetep kak, yaitu 1000 kader terekrut dan terbina. dalam hal ini, menurut saya LDW sangat berperan penting dalam menjaring kader-kader di wilayah (yang memang sangat efektif).

      setelah memiliki kader itu, secara teknis alokasi dan distribusi kader, digunakan strategi yang dijelaskan di atas..
      gimana kak?

      btw, makasih ya masukannya..sangat membantu^^

  2. sebelum wilayah dalam hal ini LDF dijadikan sebagai perpanjangan tangan LDP, kayanya LDF/S tersebut harus memiliki ‘kapabilitas’ yang setara dengan LDP. Nah kondisi sekarang tidak demikian, apalagi harus mengontrol LDPS. mengontrol tubuh organisasinya sendiri aja belum mampu bagaimana bisa mengontrol LDPS yang notabene terdiri dari minimal 2 prodi.. Jadi??

    1. iya..memang ga bisa instan sri..harus bertahap,,yang penting kita memaksimalkan usaha standardisasi itu..
      kalo dari struktur, udah ada strategi sih gimana caranya biar LDF/S ini bisa menjalankan 2 fungsi utamanya: dakwah TPB dan koordinasi LDPS..salah satu strateginya dengan adanya sekjen LDF/S..gitu..panjang sih kalo dijelasin disini..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s