[GAMAIS 2010] Sektor Internal : GAMAIS ITB yang kuat


MSDM

GAMAIS merupakan lembaga dakwah. Oleh karenanya GAMAIS harus mampu membentuk kader yang mampu menjalankan fungsi organisasi. Pada dasarnya, image GAMAIS akan sangat dipengaruhi oleh para kadernya. Baiknya seorang kader akan berpengaruh pada baiknya image GAMAIS, begitu juga sebaliknya. Mengapa? Karena mau tidak mau, kader adalah wajah organisasi. Seseorang akan menilai GAMAIS pertama kali dari kadernya. Oleh karena itu sangat penting bagi GAMAIS untuk dapat membina kader-kadernya dengan baik.
Saya pernah membaca buku berjudul Starbucks Experience. Dalam buku itu, diceritakan bagaimana para mitra (pegawai di Starbucks disebut “mitra”) benar-benar memahami budaya organisasi dan mampu menginternalisasikannya ke dalam setiap perilakunya. Ia menjadi ramah, suka menolong, sangat peduli dengan pelanggannya karena mengetahiu itulah budaya Starbucks, dan menyadari dengan itu, itu pula budayanya.
Kisah di atas memberikan saya inspirasi dan mimpi bagaimana jika kader GAMAIS mampu seperti itu. Bagaimana jika budaya GAMAIS benar-benar dapat dipahami dan diinternalisasikan kepada setiap kadernya. Maka yang akan terjadi adalah nilai-nilai islam yang terpancar di setiap sudut kampus, dan bersumber dari kader GAMAIS yang ada di sana.
Maka saya berharap sejak awal, kader GAMAIS selalu diingatkan dengan profil kader IQ PIDS (Intelek-Qurani-Profesional-Inklusif-Dinamis-Sehat). Jika profil itu benar-benar tertanam pada diri setiap kader, insya Allah dakwah di kampus ini akan sangat efektif dan mampu menjangkau seluruh sudut kampus.
Masalah lain yang terdapat di MSDM adalah belum stabilnya alur kaderisasi, pembinaan, dan pengkaryaan kader. Terlebih jika kita berbicara antara sinergi kaderisasi pusat-wilayah. Menurut saya alur pengkaryaan yang mampu mengakomodasi kebutuhan LDP-LDW harus segera dirancang. Misalnya saja, saya sempat terpikir agar setiap kader lulusan OASIS sudah langsung terdaftar sebagai staff di LDF/S masing-masing. Dengan begitu, LDF/S tidak akan mengalami kekurangan kader, penjaringan dan penjagaan pun menjadi lebih terintegrasi.
Saya juga berharap agar LDW memiliki mekanisme kaderisasi sendiri, yang sesuai dengan karakteristik dan cirri khas wilayahnya. Pelajaran yang saya dapat dari InTechno adalah efektivitas kaderisasi di wilayah dalam hal penjaringan dan pemberdayaan kader sangat tinggi, sehingga “wajib” untuk dioptimalkan. Dalam hal ini LDP sebaiknya mampu melakukan fungsi kontrol dan pembimbingan agar kaderisasi di wilayah tetap sesuai dengan alur kaderisasi di pusat.
MSDM yang sekarang memiliki bagian MSDP juga berperan dalam peningkatan dan kontrol kader di departemennya masing-masing. Keahlian dan keterampilan merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk mengembangkan organisasi ini menjadi lebih professional.
Faktor ruhiyah kader juga merupakan hal penting dalam tubuh GAMAIS ITB. Oleh karenanya MSDA merupakan ujung tombak dan pemeran utama dalam peningkatan dan penjagaan kapasitas ruhiyah kader tersebut.
Seperti yang sudah dijelaskan di bagian Tim Kewilayahan, pendataan kader menjadi hal yang sangat penting bagi organisasi yang besar seperti GAMAIS ITB. Sebaiknya MSDM bekerja sama dengan AkPro dalam membangun sistem database kader GAMAIS di pusat dan wilayah. Database ini juga dapat menjadi evaluasi di berbagai hal, misalnya pembinaan, kondisi ruhiyah, pengkaryaan, dan lain sebagainya.
Kader GAMAIS yang sudah semakin heterogen juga perlu menjadi pertimbangan MSDM dalam melakukan fungsi pembinaan dan kaderisasi. GAMAIS harus dinamis dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, sehingga mampu memformulasikan strategi yang tepat bagi setiap tantangan yang dihadapi.

BKM


Mentoring merupakan program pembinaan keislaman yang sangat efektif dalam meningkatkan kapasitas kader dan melakukan fungsi penjagaan kader. Program mentoring GAMAIS ITB saat ini sudah cukup baik. Namun ada beberapa hal menurut kami yang perlu dilakukan untuk membuat program pembinaan ini menjadi lebih baik ke depannya.
Koordinasi antara BKM pusat dan wilayah (khususnya program studi) sebaiknya lebih ditingkatkan, karena potensi prodi dalam melakukan penjaringan kelompok mentoring sangat besar, dan alangkah baiknya jika pendataannya dapat juga dikoordinasikan dengan BKM pusat.
Pembinaan mentor akan lebih baik jika ditingkatkan lagi, sehingga seluruh mentor memiliki kapasitas yang mumpuni dalam membimbing adik mentornya. Standardisasi kurikulum mentoring juga menjadi penting agar alur pembinaan menjadi lebih baik dan terarah. Optimalisasi sistem informasi mentoring juga harus dilakukan agar pendataan mentoring dapat lebih valid dan terintegrasi.

BRTK

“Karena Kita Keluarga”

Jargon GAMAIS di atas merupakan satu kekuatan yang dimiliki oleh GAMAIS ITB dalam melaksanakan semua programnya. Kekuatan eksternal kader inilah yang harus dimiliki oleh GAMAIS untuk dapat menjaga kader-kadernya tetap merasa nyaman dan bahagia berada di GAMAIS. Saya berharap agar GAMAIS ini dapat menjadi keluarga terdekat bagi kader-kadernya di kampus, serta mampu menjadi “rumah” yang selalu dirindukan bagi setiap kader dimanapun mereka beraktivitas.
Departemen ini juga berperan penting dalam melakukan pelayanan terhadap musola kampus. Jika kita lihat lebih dekat, musola kampus merupakan tempat yang sangat sering dikunjungi oleh massa kampus yang tidak terbiasa melakukan shalat di masjid salman. Namun sayangnya, peran musola ini belum dapat dioptimalkan dengan baik. Untuk ke depannya, musola diharapkan dapat menjadi tempat beribadah yang nyaman, bahkan untuk belajar (misalnya terdapat perpustakaan mini).
Pada tahun ini, saya juga berharap GAMAIS dapat memiliki sekre di dalam kampus. Kekuatan dan kedekatan GAMAIS dengan pihak rektorat akan sangat menunjang tercapainya hal ini. Jika kita mampu memiliki sekre di kampus, maka kegiatan operasional GAMAIS akan menjadi lebih lancar, dan kesan GAMAIS akan menjadi “lebih dekat” bagi massa kampus.
Dalam hal kekeluargaan, saya juga menyoroti penyampaian informasi yang akhir-akhir ini seringkali hanya berbasis “jarkom terpusat”. Kemajuan informasi dengan jarkom terpusat memang terbukti memudahkan kita dalam menyampaikan informasi. Namun saya melihat kecenderungan informasi ini hanya “tersampaikan”, tidak lebih. Kesan mengikat dan mengajak rasanya menjadi sangat minim dan akhirnya, informasi itu hanya “terhenti” di inbox handphone atau email.
Saya memang belum memiliki konsep yang jelas terkait hal ini. Namun saya menginginkan komunitas tadhrib amal (misal sektor/ departemen/ divisi) merupakan komunitas yang dekat dan membuat nyaman; saling mengajak dan saling mengingatkan. Saya terpikir untuk membiasakan lagi jarkom estafet dalam komunitas-komunitas kecil itu. Hal ini bukan berarti meniadakan jarkom terpusat. Jarkom terpusat tetap diadakan sebagai backup penyaluran informasi. Masalah informasi ini bukan hanya tugas BRTK, namun tugas semua elemen dalam GAMAIS ITB.

10 thoughts on “[GAMAIS 2010] Sektor Internal : GAMAIS ITB yang kuat

    1. iya ya iz..ana juga masih mikir2 gimana cara terbaik untuk melakukan kaderisasi yang baik untuk kader2 GAMAIS yang banyak..lagi nyoba nyari literatur ttg HRD juga..hoho

      butuh masukan antum banget nih,yang pastinya lebih pengalaman di MSDA..^^

  1. itu hanya ulasan mengenai kondisi MSDA sekarang.. truz ‘ fresh idea’ mana?.. ane mikirnya, MSDA akan sangat berjalan dengan baik apabila hubungan pus-wil lancar.. ketika semua alur kaderisasi dan informasi baik.. insya Allah pengurus MSDA nantinya bisa mengontrol ruhiyah kader..

    1. yang kepikir sih..harus jelas alur kurikulum kaderisasi,,pembagian tanggung jawab kaderisasi di pus-wil,,alokasi waktu,,sama alur pengkaryaan yang harus uda disepakati dari awal,,jadi dalam keberjalanannya bisa lebih mudah dan lancar..
      ‘fresh idea’nya uda ada sih…cuma belom jelas banget..ntar lah ya..masih rahasia..hehe^^

  2. jadi kepikiran BRTK nggak cuma ngurusin BPH n staf pusat aja.. jadi mengurusi interaksi keluarga di wilayah juga.. Kalo hubungan sesama keluarga lancar, agenda apapun insyaAllah bisa dilakukan, asal komunikasi antar komponen keluarga terjalin..

    1. yap.emang rencananya kaya gitu..kalo perlu bikin acara kekeluargaan yang sifatnya pusat-wilayah,,kaya GAMAIS cup (futsal), ato rihlah gabungan,,ato lomba masak gitu(?)..hehe
      harapannya emang ukhuwah kita bener2 bisa kebangun di seluruh kader pusat-wilayah..amiinn

  3. kepikiran sesuatu tentang penerapan profil IQPIDS.. sempet berbincang dengan seorang teteh tentang pentingnya penempatan siapa G1, A1, A0, G0 dan jajarannya.. hehe
    Hal yang paling sangat banget dipertimbangkan adalah profil orang-orang tersebut di mata masyarakat kampus.. dan tentunya kader .. inginnya dari kita sendiri ada standardisasi IQPIDS.. kalo di akhawat kepikiran bikin sekolah BPH (upgrading IQPIDS dan skill organization).. tapi cuma lintasan pikiran..
    Nah mau tanya “fresh idea” buat MSDA apa?

      1. ada beberapa ide sih sri.. tapi jangan disini lah,, ntar ketauan uul..*haha

        @uul
        iyeeee.. awak kan anak wilayah juga kemaren sore *tsah!
        tapi tolong ingetin terus aja yaa..;9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s