Membangun Soliditas Tim


“Akh, ana rasa tim antum belum cukup solid ni kerjanya.”
“Akh, ana rasa kita harus sering rapat biar kita tambah solid lagi”
“Akh, antum harus lebih peduli sama tim antum. Ana rasa kita belum cukup solid”

Pernahkah kita mendengar beberapa ungkapan di atas? Atau mungkin kita termasuk yang mengucapkan itu? Soliditas tim seringkali menjadi momok bagi tim baru yang dibentuk. Namun soliditas tim juga menjadi suatu hal yang memang harus dicapai oleh setiap tim kerja. Maka jika begitu, sebenarnya apa itu solid?

Saya pernah berdiskusi mengenai parameter solid ini dengan beberapa sahabat. Ada yang menganggap bahwa solid itu adalah saat kita bisa mengenal dekat satu sama lain antar anggota tim. Saat kita mampu peduli kepada kondisi satu sama lain, sehingga timbul rasa nyaman untuk beraktivitas di dalam tim. Di sisi lain, ada yang menganggap solid itu jika setiap rapat semua bisa hadir dan mampu menjalankan amanahnya dengan baik. Saat friksi-friksi dan masalah internal tidak lagi menjadi penghalang dalam kinerja tim secara keseluruhan. Karena untuk apa saling dekat dan peduli namun tidak profesional dalam bekerja ?

Lalu dari perbincangan di atas, yang mana yang benar? Apa sebenarnya solid itu dan bagaimana kita bisa mengukurnya secara pasti???

Berdasar kontemplasi singkat saya *tsah!*, ada 3 elemen dasar yang diperlukan untuk membentuk tim yang solid. dan tiga2nya harus dipenuhi dengan PORSI yang RELATIF bergantung pada masing2 individu (karena masing-masing individu memiliki karakter dan kepribadian yang unik)..

Sisi pertama, adalah kesepahaman. Dimensi ini berkaitan dengan logika, pikiran, dimensi kognitif, atau semacamnya. kesepahaman dapat menjadi dasar untuk tumbuhnya soliditas. coba kita perhatikan, berapa banyak yang bilang “masalah tim kita adalah masalah komunikasi”? saya melihat bahwa maksud dari ungkapan tadi adalah ketidakmerataan informasi. bukan masalah peduli atau tidak. bukan masalah ingin berkontribusi atau tidak. ini perkara tahu/ tidak tahu dan paham/ tidak paham tentang kondisi bersama, atau kondisi satu sama lain. yap, sekali lagi, kesepahaman bersama dan pengetahuan satu sama lain.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memastikan sisi ini adalah, dengan meningkatkan intensitas komunikasi, baik langsung maupun tidak langsung. Misalnya dengan milis, grup facebook, buku komunikasi, dan sarana lainnya. Membudayakan sharing juga bisa jadi alternatif, misalnya setiap anggota tim membagi informasi tentang kegiatan atau event yang perlu diketahui, seperti jika sedang beraktivitas di luar daerah, menceritakan kondisi yang sedang dialami di sana, atau memberitahukan jika ada yang sakit atau tertimpa musibah agar saling mendoakan, dll. Kegiatan2 ini sederhana, namun lihatlah betapa dampaknya bisa sangat mempengaruhi pola koordinasi tim kita.

Sisi kedua, adalah sisi perasaan/ keterikatan hati/ semacamnya.. kepahaman yang sama tanpa didukung oleh bangunan keterikatan hati menjadi hampa, tidak bertenaga. ia tidak memiliki daya gerak. mungkin ia tahu, tapi ia tidak peduli. mungkin ia paham, namun enggan ikut berpartisipasi.. yah, ini adalah perkara hati. ini bisa diusahakan untuk dibangun, dan ini membutuhkan proses yang relatif tidak sebentar. tentu saja dengan dilengkapi doa kepada sang penguasa hati.

Sangat banyak yang bisa dilakukan untuk mengupayakan keterikatan hati ini. Misalnya dengan mengadakan kegiatan kekeluargaan, program menyaudarakan, saling mengunjungi, saling menengok jika sakit, dan lain sebagainya. Pekerjaan ini memang tidak selalu mudah, tapi ingatlah, “Amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim.” (HR. Ath-Thabrani)

Sisi terakhir, adalah sisi aksi. Dimensi ini sangat dekat dengan profesionalisme. sangat dekat dengan stabilitas sistem. yah, misalnya saja, informasi sudah sampai sehingga menumbuhkan kesepahaman. terdapat juga kepedulian dan keterikatan hati disana. namun semuanya harus ditopang dengan aksi nyata yang stabil dan profesional. keinginan berkontribusi yang menggebu itu harus difasilitasi dengan aksi2 nyata, misalnya saja dengan rapat koordinasi rutin, kumpul rutin, apel rutin, dan hal-hal lainnya. Sehingga kesepahaman dan kepedulian yang sudah dibangun terejawantahkan dalam aksi nyata yang akan memberikan hasil bagi pencapaian tim. Dan dimensi terakhir ini harus dihiasi dengan sikap profesionalisme yang baik, maka soliditas tim bukan hanya berdampak pada internal tim, namun juga berdampak pada efektivitas kerja tim.

Jika itu semua tercapai, insya Allah, setiap syuro yang kita adakan, akan dirindukan oleh semuanya, dengan semangat berbagi masalah dan solusi. syuro semacam ini benar2 akan dirindukan.. dan akan menghasilkan keputusan yang dapat menjadi bahan bakar kerja kita ke depannya.

Peran Pemimpin dalam Membangun Soliditas Tim

Namun satu hal yang perlu diingat dengan baik, bahwa pemimpin memberikan corak yang sangat dominan terhadap kondisi tim, itu memang benar. Permasalahannya, adalah, bagaimana jika pemimpin tim tidak mampu menjalankan 3 elemen di atas secara maksimal? Misalnya jika pemimpin tim memiliki kepribadian yang pendiam sehingga tidak terlalu senang berbicara (?).

Jawabannya ada pada tim itu sendiri. Karena itulah fungsi dari tim. Tim sepakbola dikatakan “tim”, bukan “grup” sepakbola. Karena tim identik dengan kerjasama. Identik dengan saling melengkapi. Identik dengan saling bersinergi.

Begitulah, soliditas tim ditentukan oleh setiap pribadi yang ada di tim itu, dalam memahami perannya dalam mencapai soliditas itu sendiri. Maka jika kita menginginkan soliditas itu? Kita yang harus mewujudkannya! insya Allah.. ^^

wallahualam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s