.. Make a Better World with Social Entrepreneurship ..


.. mari buat dunia ini lebih baik dengan semangat sosial kewirausahaan ..

begitulah kira-kira semangat yang timbul dari tulisan ini. aku benar-benar tertarik dengan social entrepreneurship bahkan hanya dengan -pertama kali- mendengar istilahnya saja. hal ini, seperti mewakili hasrat untuk kaya agar bermakna. melimpah agar berkah. itulah spirit dari social entrepreneurship.

lalu apa yang dimaksud dengan social entrepreneurship? seberapa penting hal tersebut? apa saja dampak yang dapat ditimbulkan darinya? dan bagaimana kita mampu menjadi sosok social entrepreneur?

insya Allah tulisan ini akan sedikit mengkaji tentang pertanyaan-pertanyaan di atas. harapannya satu: semoga dari sini timbul kesadaran bagi kita untuk menjadi sebaik-baik entrepreneur, yaitu entrepreneur yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

——————–

pasti Anda pernah mendengar nama Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian, pemilik Grameen Bank. Jika kita coba lihat lebih dekat, apa yang dilakukan Muhammad Yunus sedikit banyak berbicara tentang bisnis. Lalu kenapa dengan begitu ia dapat meraih Nobel Perdamaian, bukannya Nobel Ekonomi? Ya, jawabannya adalah, dengan bisnisnya, ia mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di negaranya, dan jelas pula, korelasi antara kondisi ekonomi dengan stabilitas sosial di suatu daerah.

Grameen Bank yang terdapat di Bangladesh, berhasil menyalurkan kredit mikro kepada sekitar 8 juta nasabah rakyat miskin di hampir 80 ribu desa! (subhanallah… bayangkan betapa bermanfaatnya suatu perusahaan milik pribadi kepada masyarakat luas).

Menurut majalah SWA edisi Februari 2010, kewirausahaan sosial adalah semangat menyala-nyala dalam misi sosial dipadukan dengan sifat inovatif, disiplin, dan tahan banting seperti yang berlaku di dunia bisnis. Kewirausahaan sosial terbukti mampu melahirkan banyak wirausaha baru yang mandiri dan siap menularkan virus kewirausahaannya kepada orang-orang lain di sekitarnya.

Salah satu ciri yang sangat lekat pada sosial kewirausahaan ini adalah, kentalnya aroma kearifan lokal yang dipadu dengan ilmu bisnis dan manajemen modern. Pada bisnis ini, modal besar yang harus dimiliki adalah kemampuan saling percaya antara satu dengan yang lain. Karakter lain yang melekat pada pelakunya adalah, seringkali sosoknya tergerak karena social driven. Ia memiliki misi untuk memecahkan suatu persoalan yang ada.

Social Enterprise (SE) merupakan istilah bagi lembaga yang menjadi wadah social entrepreneurship. SE memiliki 3 ukuran bottom line, yaitu finansial, sosial, dan environmental impact (benefit). Maksudnya adalah, parameter umum yang selalu menjadi patokan bagi berhasilnya SE dilihat dari seberapa besar keuntungan finansial yang dihasilkan bagi pelaku dan mitranya. Dilihat juga seberapa luas dampak bagi masyarakat sosial yang diberdayakan dan mendapatkan manfaat dari SE tersebut. Serta dilihat dari dampaknya kepada lingkungan secara umum, baik lingkungan hayati maupun kondisi masyarakat luas di sekitarnya.

Lalu, siapa yang dapat menjadi social entrepreneur?

Setiap orang, baik individu, komunitas, lembaga, ataupun masyarakat bisa menjadi social entrepreneur.

Secara individu, misalnya kita mengenal Amin Aziz, yang terkenal sebagai Pendiri Bank Muamalat. Ia melahirkan konsep Baitul Maal Wat Tamwiil yang bergerak dalam pembiayaan usaha mikro. Setiap tahunnya, diperkirakan terdapat sekitar 500 mitra baru bagi BMT ini.

Secara komunitas, misalnya Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS Pengalengan). Dengan bentuk koperasi, mereka menghimpun para peternak sapi, kemudian dengannya ikut meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka, menjamin aliran produksi mereka, dan memberikan berbagai bantuan lainnya. Prinsip koperasi yang berdasarkan kekeluargaan, dapat disederhanakan dengan “dari, oleh, dan untuk kita”.

Secara lembaga atau korporasi juga dapat membangun SE. Program ini kadang kala dibungkus dengan label CSR (Corporate Social Responsibility). Misalnya saja Bank Mandiri dengan Program Wirausaha Muda Mandiri. Hal ini juga dapat dikategorikan dengan Social Enterprise. Dimana mereka meningkatkan kapasitas para wirausaha muda, memberikan bantuan modal kepada mereka, dan bantuan-bantuan lainnya sehingga mereka dapat berkembang dengan pesat.

Posisi Pemerintah juga penting dalam Social Entrepreneurship ini, dimana pemerintah berperan besar dalam pembentukan kebijakan yang dapat mendukung keberjalanan SE, menjadi fasilitator, supporter, dan organisator bagi tumbuhnya SE di Negara ini.

——————————————–

Menurut saya, masing-masing elemen di atas, seringkali memiliki karakter yang berbeda-beda:

Pada level individu, biasanya mereka bergerak sesuai dengan dorongan hatinya, atau sesuatu hal yang dikuasai atau disenanginya. Misalnya Nasrudin Hariyana, seorang peternak Lele Sangkuriang yang sangat besar. berdasarkan dorongan hatinya, ia memanfaatkan ilmu dan keterampilannya dalam beternak lele, dengan membagikannya kepada orang lain dengan seluas-luasnya. ia memberikan ilmu dan pengalaman kepada mereka yang ingin beternak lele, memberikan penyuluhan, bantuan proses produksi, dan bantuan jaringan penjualan dan distribusi.

Pada level korporasi, karakteristiknya -biasanya- berbeda dengan level individu, biasanya mereka memiliki ciri:

> Berhubungan dengan rantai produksi-operasi dan memungkinkan -baik dalam jangka pendek ataupun panjang- untuk mendukung proses bisnisnya. Misalnya Yayasan Unilever Peduli, yang mengembangkan para petani kedelai hitam. Sehingga, pada saat mereka sudah mampu memproduksi secara baik, mereka juga akan dijamin penyalurannya, dengan Unilever sebagai pemasok kedelai hitamnya (untuk kecap Bango)

> Mendayagunakan kapasitasnya sebagai sebuah perusahaan suatu produk atau jasa. Misalnya Sabun Lifebuoy yang melakukan CSR dalam bentuk sosialisasi cuci tangan ke sekolah-sekolah

Pada level masyarakat, biasanya akan sesuai dengan karakter, potensi, dan terlebih lagi mata percaharian/ profesi mayoritas di lingkungan itu. Misalnya saja KPBS di Pengalengan tadi.

——————————————–

Menurut Saya, bahwa dalam menjadi Social Entrepreneur, terdapat 2 pendekatan, yaitu dorong (push) dan tarik (pull). Metode Dorong (push) lebih bersifat ‘memberikan’ pelayanan/ potensi pemberdayaan atas sesuatu yang kita miliki kepada masyarakat. Misalnya kita adalah seorang pengusaha di bidang peternakan kelinci potong. Dalam pengembangan bisnis kita, kita membutuhkan lebih banyak lahan, tenaga kerja, dan lainnya. Pada saat itulah kita membangun sistem untuk memberdayakan masyarakat yang memiliki lahan di sekitar rumahnya, untuk menjadi peternak kelinci potong juga. Dengan memberikan penyuluhan, pelatihan, dan modal, dan jaringan penjualan yang cukup kepada mereka, pada akhirnya mereka akan mandiri. Masyarakat yang pada awalnya hanya melakukan cocok tanam dan membiarkan lahan di rumahnya kosong, kali ini memiliki peternakan kelinci (walau kecil-kecilan) dan mampu meningkatkan taraf ekonomi hidup mereka.

Pendekatan kedua adalah metoda Tarik (pull). Pada metoda ini, potensi dan kearifan lokal masyarakat lah yang benar-benar diberdayakan. Misalnya Lembaga Ocean Mitramas, yang memberdayakan para nelayan di daerah Timur Indonesia untuk lebih produktif dalam menjaring ikan. Dengan pola pengembangan yang intensif, penjaminan modal dan rantai produksi, perkembangan masyarakat -sesuai dengan potensinya- akan secara signifikan terakselerasi.

Seorang pelaku Social Entrepreneurship sempat menyatakan: “kaum dhuafa yang paling tidak berdaya pun tak ingin ‘diselamatkan’, yang mereka butuhkan/ inginkan adalah diberdayakan”. Maka pada dasarnya, baik metoda Dorong maupun Tarik, sama-sama baik sejauh mampu -semaksimal mungkin- memberdayakan sebanyak-banyaknya masyarakat luas.

——————————————–

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melakukan social entrepreneurship ini secara umum antara lain:

1. Mengembangkan keterampilan mitra (dengan bentuk penyuluhan, pengembangan kepribadian, mindset, motivasi kerja, dan lain sebagainya)

2. Membantu menyuplai ilmu atau teknologi terbaru yang dapat meningkatkan performansi mereka

3. Membantu penyediaan modal capital (investasi) bagi para mitra sesuai dengan kebutuhannya

4. Memberikan jaminan terhadap beberapa risiko dan kondisi yang tidak diharapkan (termasuk di dalamnya menjamin bahwa apa yang mereka hasilkan akan jelas terjual)

5. Meningkatkan pola manajemen bisnis, termasuk juga strategi penjualan dan memberikan dukungan jaringan usaha kepada mereka. (misalnya, para mitra nelayan yang kita berdayakan, dengan jaringan penjualan yang kita miliki, dapat menjual ikan hasil tangkapannya ke pasar ekspor, sehingga margin profit mereka akan meningkat)

Sedangkan beberapa elemen usaha yang seringkali sesuai untuk menjadi ladang social entrepreneurship antara lain:

> peternakan

> pertanian atau perkebunan

> penyuplai teknologi dan ilmu baru

> usaha waralaba kecil menengah

> inkubator bisnis UMKM

> serta perbankan usaha mikro (kredit murah dan mudah bagi UMKM)

***

begitulah sekilas mengenai Social Entrepreneurship. yang mungkin bisa menjadi salah satu sarana pengembangan masyarakat, menuju masyarakat yang lebih adil, makmur, dan sejahtera.

Rasulullah SAW menjelaskan hubungan antara “kemiskinan” dan kekayaan, dan antara kehinaan dan kemuliaan, beliau membawakan ceritera, sebagaimana Hadits Riwayat Bukhari, Muslim dan Nasai dari Abu Hurairah: “Pada suatu malam seorang laki-laki bersedekah kepada laki-laki lain, yang ternyata ia seorang pencuri. Lalu kejadian ini diperbicangkan oleh umum. Kemudian di waktu lain, laki-laki tersebut bersedekah lagi kepada seorang perempuan, yang ternyata ia seorang pelacur. Lalu orang-orangpun membicarakan kejadian itu lagi. Kemudian laki-laki yang bersedekah itu pada malam harinya mimpi kedatangan seseorang yang berkata kepadanya: Adapun sedekah anda kepada pencuri itu, mudah-mudahan dapat menjadikan ia berhenti dari mencuri. Begitu pula, sedekah anda kepada perempuan lacur itu, dapat menjadikan ia berhenti dari perbuatan lacur (=zina).”

Begitu besar potensi kebaikan dari keberlimpahan. Semoga saya juga -nantinya- mampu menjadi sebaik-baik Social Entrepreneur, yang mampu memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi masyarakat luas.

wallahualam bisshawwab

——————————————————————————————————

hikmah itu, tidak hanya tersebar dari buku-buku teori dan tidak hanya dapat dipetik dari kejadian aktual di dunia nyata

tapi hikmah juga terserak dalam setiap jenak mimpi, harapan, dan kisah fiktif yang diadakan.

karena seperti mimpi yang masih belum nyata, Kita pun dapat menyusun sendiri kisah fiktif kita,

menyusunnya dengan berkas-berkas cahaya yang penuh dengan hikmah-inspirasi bagi orang lain..

hingga kita melihatnya menyeruak nyata dalam setiap jengkal hidup kita.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s