.. ITB untuk IPTEK Nasional .. [refleksi]


Kondisi IPTEK Nasional saat ini

untuk kita mampu melihat bagaimana kondisi IPTEK di Indonesia saat ini, terlebih dahulu kita perlu mencoba mengidentifikasi kriteria-kriteria yang kita gunakan untuk menilai baik-buruknya serta gap antara idealita-realita kondisi IPTEK di Indonesia saat ini. Pada dasarnya, penentuan kriteria itu dapat berupa data ilmiah dan dapat berupa common sense. keduanya perlu dipertemukan agar kita mampu melihat secara kuantitatif dan kualitatif.

Indikator Kondisi IPTEK

terdapat beberapa indikator yang mampu menggambarkan bagiamana kondisi IPTEK di sebuah negara, yang berlaku umum di seluruh dunia dan menjadi kriteria pembanding antara satu negara dengan negara lainnya. beberapa indikator itu adalah:

1. Sumber Daya Manusia IPTEK

di Indonesia sendiri, potret SDM iptek ditunjukkan melalui persentase sumber daya manusia iptek dalam jenjang S3 di Lembaga Litbang Pemerintah Non Kementerian dan Lembaga Litbang Kementerian dari tahun 2005 – 2008 yang rata-rata hanya 4,48%, sedangkan untuk jenjang S2 sebesar 14,99 %. Dalam kurun waktu yang sama, SDM

yang menempuh jenjang karier melalui jabatan fungsional rata-rata 37,4 %. Dilihat dari proporsi jumlah peneliti yang dimiliki Lembaga Litbang Non Kementerian dan Lembaga Litbang Kementerian terhadap jumlah total peneliti, diketahui bahwa jumlah peneliti terbesar berasal dari Kementerian Pertanian, disusul LIPI, BPPT, BATAN, dan Kementerian ESDM.

Selain berada di LPND dan LPD, SDM Iptek juga berada perguruan tinggi. Survei litbang di perguruan tinggi yang dilakukan LIPI pada tahun 2007 menunjukkan bahwa total tenaga kerja (dosen) yang ada di perguruan tinggi negeri (PTN) berjumlah 24.260 orang, dengan uraian yang bekerja di fakultas sebanyak 7.731 orang, di lembaga penelitian sebanyak 8.820 orang, di lembaga pengabdian masyarakat (LPM) sebanyak 6.979 orang, dan di politeknik sebanyak 730 orang.

2. Output Penelitian

Salah satu keluaran dari kegiatan penelitian adalah publikasi di jurnal ilmiah. Data dari Essential Science Indicator yang diterbitkan oleh Institute for Scientific Information (ISI) yang diolah PapIptek LIPI tahun 2007, selama periode tahun 2000 – 2004 jumlah publikasi internasional yang penulisnya orang Indonesia mencapai 2.193 judul. Angka ini masih rendah bila dibandingkan dengan Malaysia yang sebesar 5.810 judul, Thailand 10.024 judul, Singapura 25.046 judul, Korea Selatan 100.149 judul, dan China 234.831 judul. Dengan demikian, diperlukan upaya yang sistematis untuk dapat meningkatkan kegiatan penelitian yang hasilnya layak dimuat di jurnal-jurnal internasional.

Selain makalah ilmiah, bentuk lain dari hak kekayaan intelektual adalah paten. Dalam hal pengelolaan kekayaan intelektual, sentra hak kekayaan intelektual (HaKI) telah dibentuk oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. Sejak tahun 1998 sampai 2008, terdapat 65 sentra HaKI di Indonesia. Dari segi jumlah paten, berdasarkan data WIPO (World Intellectual and Property Organization), diketahui bahwa jumlah paten Indonesia yang terdaftar masih berada pada posisi kelima dari enam negara ASEAN (Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam), sedangkan berdasarkan data dari Ditjen HaKI tahun 1993-2008, jumlah paten yang diusulkan oleh orang Indonesia di dalam negeri, tergolong masih rendah, data juga menunjukan bahwa industri dan perorangan mendominasi pendaftaran paten. Perguruan Tinggi dan lembaga riset yang selama ini mendapatkan dana riset dari pemerintah justru paling sedikit mendaftarkan paten.

Permasalahan Umum

Indeks daya saing Indonesia menurut global competiveness index (GCI) yang dimuat dalam The Global Competiveness Report 2008–2009 yang diterbitkan oleh World Economic Forum pada tahun 2008, menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat 55 dari 134 negara. Salah satu dari 12 pilar daya saing yang diukur oleh badan ini adalah daya inovasi suatu bangsa, yang menempatkan Indonesia pada urutan ke 47.

Selain dari sisi penyedia produk IPTEK, permasalahan juga terdapat di sisi pengguna IPTEK, baik perorangan, kelompok, lembaga, dan industri. dalam hal ini, keluaran IPTEK dari lembaga penelitian seringkali tidak memiliki kolerasi positif dengan implementasi di lapangan sehingga tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat maupun industri. hal ini sedikit banyak dikarenakan pengguna IPTEK masih memiliki mental impor dan masih ragu dengan kualitas dan kapasitas produk IPTEK dari dalam negeri.  Permasalahan lain adalah kesesuaian antara ilmu dan teknologi yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga litbang dengan ilmu dan teknologi yang dibutuhkan oleh pengguna masih rendah.

Di sisi anggaran, investasi untuk penguasaan iptek melalui anggaran yang disediakan untuk membiayai kegiatan litbang masih terbatas. Dengan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN sejak tahun 2008, investasi pembentukan modal intelektual telah memiliki momentum yang baik. Namun, jumlah lulusan sarjana dan doktor di bidang sains dan perekayasaan, yang mencakup matematika dan ilmu pengetahuan alam, pertanian dan ilmu pengetahuan teknik masih perlu lebih ditingkatkan lagi.

Dari sisi kelembagaan, dapat dijelaskan bahwa di luar perguruan tinggi, pemerintah memiliki dua kategori lembaga penelitian yaitu: lembaga penelitian nonkementerian (LPNK), dan lembaga penelitian kementerian (LPK) yang dimiliki oleh beberapa kementerian. Koordinasi antarlembaga penelitian itu masih perlu ditingkatkan baik antara program, antara produk penelitian yang ada di berbagai lembaga penelitian, maupun antara program dan produk yang telah dilaksanakan di masa lampau (re-inventing the wheel syndrome).

Permasalahan yang teridentifikasi mencakupi pembangunan iptek yang masih belum menjadi arus utama (mainstream); lemahnya sinergi kebijakan iptek (belum optimalnya integrasi program, koordinasi, harmonisasi kegiatan, dukungan anggaran, serta intermediasi, yang terjadi baik intra lembaga/aktor penghasil Iptek, maupun antarpenghasil iptek dengan pengguna iptek, atau secara umum lemahnya koordinasi dan sinergi di antara pemangku kepentingan pembangunan Iptek); masih lemahnya sosialisasi regulasi yang telah ada; dan lemahnya budaya iptek.

ket: banyak data dan referensi yang diambil dari RPJMN 2010-2014

Selanjutnya:

Peran Perguruan Tinggi dalam IPTEK Nasional

Peran Mahasiswa dan KM ITB dalam IPTEK Nasional


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s