Hari ke-50: Membangun Mental Kompetisi Global


Los Angeles
4 Agustus 2015

Hari ini adalah hari ke-50 saya sejak menjejakkan kaki di tanah Paman Sam, tepatnya di kota Los Angeles. Teringat pertama kali saya tiba, bayangan saya akan Amerika pada awalnya cukup berbeda dengan apa yang saya jumpai. Awalnya saya pikir di sini akan dihuni mayoritas orang kulit putih dengan rambut pirang dan mata berwarna-warni. Awalnya saya pikir semua akan terasa nyaman, tentram, tertib, dan teratur. Namun ternyata tidak juga. Etnis sosial yang sangat beragam, kota yang keras, dan kehidupan sosial yang sangat individualis adalah kesan-kesan awal yang saya rasakan.

Saat masuk masa perkuliahan, iklim yang saya rasakan tidak jauh berbeda. Ragam etnis dan etos kerja yang tinggi masih sangat kental terasa. Disini, walau tetap individualis, iklim akademik mengarahkan kami untuk dapat show off dan berani berargumen serta menyampaikan pendapat.

Jauh dari budaya Indonesia yang sangat mengedepankan kesantunan, di sini semua terkesan egaliter. Professor dan mahasiswa dapat berdialog bahkan berdebat layaknya teman sepantaran. Tidak ada yang mempermasalahkan jenjang usia. Teman satu program disini beberapa bahkan umurnya sama atau lebih tua dari orang tua saya sendiri.

Saat kuliah pun jauh dari kesan formalitas. Dari sisi pakaian, semua dibebaskan; ada yang pakai celana pendek, kaos, dan sandal jepit; tidak ada yang mempermasalahkan. Gaya individu pun bermacam-macam: ada yang kuliah sambil makan, kaki naik ke kursi, ada yang sambil berdiri, dan lain sebagainya. Namun yang menarik, ada satu kesamaan: mereka tidak berbicara satu sama lain ketika ada yang sedang berbicara di depan. Penghargaan mereka ditunjukkan dengan memperhatikan dan mendengarkan orang yang sedang berbicara.

Ya, saya pikir satu hal yang sangat dijunjung tinggi di sini adalah fairness dan profesionalisme. Semua orang berhak berbicara dan oleh karenanya berhak didengarkan. Professor saya sejak awal menekankan: “Pertanyaan paling bodoh di kelas ini adalah pertanyaan yang tidak ditanyakan!”. Jadi intinya, tidak ada pertanyaan yang bodoh, sama sekali. Semua dapat berbicara, dan jika benar, siapapun itu dan apapun posisinya, tetap akan dianggap benar.

Tidak banyak budaya basa basi di sini, iklimnya sangat kental dengan budaya kompetisi yang ketat. Slogan work hard, play hard benar-benar terlihat dalam kehidupan masyarakat di sini. Totalitas saat bekerja, namun juga sangat serius saat bermain.

Satu hal yang menjadi PR besar saya di sini: BERADAPTASI dengan budaya KOMUNIKASI dan iklim KOMPETISI. Ya, saya sejujurnya orang yang sangat introvert dan tidak terlalu ekspresif. Saya tidak terlalu suka banyak berbicara, dan tidak terlalu suka berdebat. Masalahnya, disini, jika kita tidak mengungkapkan sesuatu, maka kita pun besar kemungkinan tidak akan dipersilahkan untuk berbicara. Bahkan budaya “angkat tangan” pun terkadang tidak digunakan untuk meminta izin berbicara.

Bahayanya, saat kita tidak mengungkapkan sesuatu, maka kesan yang ditunjukkan justru negatif. Orang akan menganggap kita tidak memahami, tidak mengerti, atau bahkan tidak perduli. Pada akhirnya, justru kita akan dianggap tidak menghargai lawan bicara jika kita tidak berkomunikasi dengan cara yang sama. Oh iya, satu hal lain yang sangat terlihat dari gaya komunikasi di sini, adalah budaya komunikasi yang ekspresif dan percaya diri (ditunjukkan dengan suara yang lantang dan intonasi yang kuat).

Sejujurnya inilah kendala terbesar saya selama 50 hari pertama. Saya harus terus mencoba mendobrak batas zona nyaman saya dalam konteks komunikasi, kepercayaan diri, dan kompetisi. Tidak mudah bagi saya yang sudah hidup 25 tahun dengan dominasi introvert untuk kemudian menyesuaikan diri dengan tantangan di atas.

Namun saya percaya tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini. Bagaimanapun, saya bersyukur diberi kesempatan untuk menuntut ilmu di Amerika, setidaknya selama 1 tahun. Saya percaya bahwa Allah sedang memberi saya kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih komunikatif, percaya diri, dan memiliki mental kompetisi global.

Satu tahapan yang harus saya lalui adalah menyesuaikan kondisi mental dan meningkatkan kapasitas bahasa inggris saya yang cenderung masih belepotan. Insya Allah, dalam 1-2 bulan ke depan, akan terus berupaya untuk mengakselerasi dua hal tersebut.

Respect others, and they will give it back to you!

One thought on “Hari ke-50: Membangun Mental Kompetisi Global

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s